Minggu, 30 November 2014

Di Atas Dua Sajadah Berbeda


Bukan melalui pacaran

Bukan pula melalui berdua-duaan

Namun inginku mengenalmu melalui sujud

Di setiap sepertiga malam terakhir itu



Bukan melalui gombalan dan rayuan

Bukan pula melalui kata-kata yang pura-pura sopan

Tapi aku ingin sampaikan rasa cintaku dengan tengadah kedua telapak tangan

Dengan bibir berlantun doa



Bukan dengan mengumbar paras

Bukan pula dengan kemolekan yang khas

Tapi aku ingin meraihmu dengan mardhatillaah

Dengan menyempurnakan iman



Bukan sekedar mencintaimu yang ku ingin

Bukan pula sekedar kau mencintauku

Namun aku ingin mencintaimu karena aku mencintai Allaah, Tuhanku

Dan ingin pula kau yang mencintaiku karena kecintaanmu pada Tuhanmu, Allaah



Bukan sujud di tempat yang sama

Bukan pula bersimpuh di sajadah yang sama

Namun inginku bersujud tepat berjarak sejengkal di belakang kananmu

Di atas dua sajadah berbeda yang ku gelar, dan kau mengimamiku

Selasa, 23 September 2014

Obrolan Kecil itu Hidayahku



Hal yang paling jauh adalah masa lalu.

Dulu, dengan bangga aku akan mengibas-ibaskan rambutku; menyematkan bandana-bandana berbagai model, lucu, di rambutku; menyibakkan poni dengan jepit warna warni; mengucir dua dan dampai mengepangnya indah dan rapi. Dulu, dengan bangga aku akan berlenggak lenggok di depan cermin sambil sesekali menyisir rambutku: yang barangkali mengusut. “ah .. rambut kusut, nanti nggak oke lagi nih..” batinku. Dulu. Dan dulu itu bisa saja berarti sepuluh tahun yang lalu, lima bulan yang lalu, atau bahkan satu detik yang lalu.

Dulu, bagiku rambut adalah mahkota, letak kerapianku. Bahkan aku membanggakannya. Membanggakannya hingga aku akan rela menyisihkan sekeping demi sekeping uang saku sekolahku demi merawat rambutku. Shampoo, condisioner, vitamin rambut, semua aku beli tanpa belas kasihan terhadap LKS mapelku yang belum terlunasi. Membanggakannya hingga aku rela mengecatnya dan menyiksanya dengan catok: alat untuk merapikan rambut. Sampai bahkan aku rela memamerkannya ke khalayak ramai.. Afwan.. mungkin jika bias bicara si rambut akan berteriak kesakitan dan tak terima ia terjuntai dan dilihat khalayak ramai.

Kini aku menyesal. Kenapa tak sedari dulu saja aku mendengar lolongan hati yang menginginkan si empunya-nya mengenakan jilbab. Mungkin dunia terlalu berisik sehingga aku mendengarnya hanya lirih atau mungkin tak mendengarnya sama sekali.

Suatu hari di kantorku bekerja, di tahun 2011, aku tak sengaja mendengar 2 rekan kerjaku: Pak Tri dan A’ Koang sedang berbincang asyik. Lama-lama aku terjebak dalam obrolan mereka dan ikut nimbrung.

“wah .. sekretaris di PT X lhaa .. seperti dia itu yang cantik .. pake jilbab terus kemana-mana.” celetuk Pak Tri dengan logat jawanya yang kental, berwibawa.

“Ah, kata siapa, orang waktu saya kirim barang untuk PT X ke rumahnya waktu itu dia make celana di atas lutut, baju pendek, di kantor aja kali pakai jilbabnya, orang kamana-mana kadang the gak make jilbab. Pas saya ke sana itu teh pake baju pendek jiga biasa wae atuh, nggak malu langsung ke dalem dulu gitu ambil jilbab kek atau pakai panjangan dikit kek bajunya. Kagak.” A’ Koang menyangkal dengan nada sunda berkombinasi bahasa.

“plin plan dia mah” lanjutnya.

Deg.

Jantungku serasa berhenti sejenak. Lalu diikuti dengan desiran darah di urat nadi yang menderas, diiringi detak jantung yang kurasa menyepat.

Kalimat-kalimat itu menghujamku sampai sendi. Obrolan kecil itu seperti menyindirku.
Esok hari tanpa berpikir panjang, dengan hati takut tersindir(lagi), aku putuskan untuk berjilbab. Kapan pun dan di mana pun aku berada. Khususnya di depan dua rekan kantorku itu. Meski belum konsisten setidaknya tak kelihatan plin plan di mata mereka. Setidaknya aku akan aman dari tema obrolan mereka. Setidaknya obrolan kecil tempo hari tak lagi mengiang dalam otakku. Setidaknya obrolan kecil mereka itu tak lagi sindiran untuk hatiku.

Lima bulan sudah aku bekerja di kota tetangga. Aku seperti bukan aku kala itu. Aku berbeda. Aku menadi lebih rajin sholat dan membaca al-quran. Sholat malam selalu aku sematkan di pertigaan malam. Terkadang aku menangis tersedu-sedu, kadang hanya mengisak kecil namun dalam. Aku merenung betapa kejam hidup di kota tetangga ini. Aku tak nyaman di dalamnya. Aku tak bebas menjalani hidup di sini. Teman rekan kerjaku ada yang sadis, bukan padaku, namun pada teman sekantorku yang lainnya lagi.

Aku jenuh, aku takut lagi mengarungi hidup di sini. Aku rindu ibu yang selalu cerewet. Aku rindu ayah yang kata-katanya menentramkan hati.
Aku putuskan untuk kembali ke kampung halaman nan asri. Wonosobo. Sejengkal pengalamanku di kota tetangga membulatkan niatku untuk semakin konsisten dengan jilbab. Jilbab tipis segi empat kutekuk menjadi segitiga sama sisi dan pendek sebahu itu, yang ujung depannya kusematkan di bahu dengan peniti selalu bertengger rapi menutup rambutku yang dulu aku siksa dengan memamerkannya ke khalayak ramai.

Lambat laun, bagai sudah janjian, adikku: Nina, juga tengah memantapkan hati untuk berjilbab. Tipe jilbab kami masih sama, jilbab dengan luas 1x1 meter tipis dan terawang, jilbab bahan paris, begitu orang-orang menyebutnya.

Satu tahun berlalu. Jilbab menjadi perantaraku menyaksikan Mahaesanya Allah. Banyak ilmu yang aku dapat seiring dengan berjalannya waktu. Semakin banyak ilmu yang ku dapat, semakin haus aku akannya. Aku menjadi paham mengapa Allah memerintahkan Nabi agar menyuruh wanita-wanitanya(isteri dan anak perempuan) menjulurkan kain dari kepala sampai dada. Aku menjadi mengerti apa itu aurat. Aurat adalah bagian-bagian tubuh manusia yang harus ditutup dan dijaga dari pandangan non-mahram, baik laki-laki maupun perempuan. Batasan aurat perempuan adalah seluruh bagian tubuh, kecuali telapak tangan dan muka. Sedangkan aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut.

Kali ini bukan bagai tengah janjian lagi, namun aku dan adikku benar-benar sepakat untuk memantapkan niat mengenakan hijab: baju kurung dan jilbab besar menutup sampai ke dada.
Semakin banyak ilmu yang aku petik. Semakin dan semakin dahaga ilmu kurasa. Allah selalu memberi kejutan kepada hamba-Nya dari arah yang tak terduga-duga. Banyak ilmu yang datang dari segala arah. Aku terkesima. Tak jarang aku bersimpuh, betapa kecilnya aku. Aku hanya selalu mengharap pemberian yang lebih dari Allah sedangkan aku tak pernah berbuat apa-apa. Subhanallaah.. Maha suci Allah..

Aku jadi teringat ada beberapa orang yang berjasa dalam perubahanku. Ustadzku terhormat, ayah, adik, dua rekan kerjaku: dulu, dan teman-temanku. Terimakasih Allah .. segala puji bagi Engkau yang telah menegurku dari obrolan kecil Pak Tri dan A’ koang waktu beberapa tahun silam. Tanpa engkau memberi perantara itu, mungkin aku sekarang tak bermoral, tak beradab, tak berbelas kasih terhadap aurat.

Hidayah itu memang takkan pernah datang jika hanya ditunggu. Hidayah itu datang jika kita mencari. Obrolan kecil itu Hidayahku.

I love hijab.