Selasa, 27 November 2012

Ayah part #2


Tanpamu .. Aku bagai burung dalam sangkar ..
Kau mengulas kebaikanku dan mengubur keburukanku ..
Menjaga lisanmu untukku ..
Kau ikuti setiap langkahku

Nasihatmu adalah bekal bagiku ..
Kata-kata sejuk itu menancap erat di dalam kalbu ..
Kata-kata yang kau ujarkan seperti mutiara-mutiara dalam otakku
Saat buntu, kalimat-kalimatmu yang kuingat

Perangaimu adalah yang terbaik dalam penglihatku
Teladan saat aku lengah
Sehatmu adalah bahagia bagiku
Doamu menyanding dalam lelapku

Lihat .. kini aku ikut tergolek
Semangatku terbang bersama angin
Senyumku terbias bersama semburat mentari
Malamku melejit seperti sambaran kilat
Cepat searah putaran jam pada dinding

Aku butuh waktumu
Kembalillah menyandingku dalam canda
Ayah ..

Sahabat Baru


Sahabat Baruku
"Sejuta Pelangi" Adikarya Oki Setiana Dewi

Buku “SEJUTA PELANGI” karya Oki Setiana Dewi (OSD) ini adalah sahabat baru di pertengahan bulan ini.  Waaah .. Padahal sahabat-sahabat yang lain juga belum kelar kubaca.

Jumat, 02 Nopember beberapa hari yang lalu, sambil nunggu tebengan dateng (hehe maklum buat jaga-jaga biar si wallet tetep eksis tebelnya, hehehe o.O) cahaya iseng-iseng jalan-jalan ke toko buku “Eka Jaya” Jl. Kyai Muntang 99 Wonosobo. Uwaaah .. Banyak banget tuuuh yang namanya novel-novel tebel yang nantangin mata biar tiap malem tetep jeger mantengin tuh novel. Setelah satu deret dua deret dan beberapa deret rak-rak novel sudak kupijaki, ternyata kagak ada satupun yang mampu bikin mata kecantol buat baca sedikit resensi di sampul belakang.
Anyway.. nggak mungkin juga kan uda bolak-balik, mondar-mandir nyari dan tanya ini itu ke pelayannya trus nggak jadi beli. Mau nggrundel kaya apa tuh mbak-mbak pelayannya? Lalu capcus aja deh mumpung ad aide buat pura-pura pesan buku. Eeee.. ternyata bias. Okelah nggak apa-apa. Aku tertarik pada buku-buku OSD. Ada MELUKIS PELANGI (OSD first book), SEJUTA PELANGI, dan CAHAYA DI ATAS CAHAYA.

Isinya luar biasa. Rangkaian kata-katanya runtut banget. Buku Pernik Cinta OSD “SEJUTA PELANGI” berisi curahan-curahan OSD tentang orang-orang di sekelilingnya. Cahaya memang baru membaca separuhnya saja. Tapi judul ini “Perjuangan Seorang Guru Besar- Agar Hidup Lebih Hidup”, aku tertarik. Dengan cepat mataku sliweran membaca setiap kata-kara yang berjejeran. Hingga aku menemukan ini dari deretan catatan OSD,

Suatu hari, aku pernah iseng bertanya kepada Prof. Helmi, “ Prof, apa motivasi Anda menjadi professor?” Beliau menjawab singkat, “Saya ingin bermanfaat bagi orang lain.”

Sepenggal tulisan yang sejak kini masih mengiang-ngiang di kepala. Tujuan Profesor Helmi adalah hanya ingin bermanfaat bagi orang lain. Sungguh keinginan yang mulia. Bahkan itu Beliau katakan saat beliau dalam keadaan sakit. Ini terbukti dari cerita OSD di paragraph pertama,

          Mataku terpaku menatap mesin pencuci darah yang menggantikan tugas ginjal Prof. Ahmad Suhelmi selama enam tahun belakangan ini.

Beliau bahkan tengah enam tahun memikul penyakit itu dalam hidupnya. Bahkan tentu beliau ingin sembuh hanya untuk bias bermanfaat bagi orang lain. Subhanallah.

Sungguh OSD sangat pandai merangkai kata-kata dalam catatannya. Nggak kaget deh kenapa bukunya di minati banyak kalangan ini.
          

Bingkisan Cantik


Aku menghitung hari ..
Menunggu hadiah dari-Mu ..
Akankah sampai di tanganku?
Bingkisan Cantik yang entah di mana ENGKAU titipkan ..

Kupesan kebahagiaan ..
Bercampur setitik cahya terang ..
Ku kumpulkan lisan doa untuk janji-Mu ..
Sebuah Bingkisan Cantik

Aku masih menghitung hari ..
Menunggu hadiah dari-Mu ..
Bersisi secercah harapan ..
Dalam Bingkisan Cantik ..

Luka Yang Kedua


Puing-puing bahagiaku masih berserakan
Ku ambil ..
Satu ..
Tapi jemariku terluka untuk yang kedua

Kau datang
Tapi kau tidak obati lukaku
Kau injak jemariku lagi !! Yang kedua ..
Kau injak puing-puing itu ..

Sakit ..
Luka yang kedua ini kau toreh ..

Dan kau berkata untuk yang kedua
“aku hanya ingin menginjak puing itu, agar tak melukai jemarimu.”

Linang Hujan di Jendela Kaca


Sekelebat lamunan melayang-layang
Terkuak rasa pilu
Linang hujan di jendela kaca
Merabai lembaran bening yang luas

Pedih yang kelam menjelma menjadi sahabat-sahabat waktu
Membisik haluan udara resah
linang hujan di jendela kaca
Mengalir meninggalkan setitik air

Linang hujan di jendela kaca
Mengawasi isak dalam dada
Mengamati dan seolah berkata “kemana hilir dari sungai di pipimu itu?”


Nahkoda


Kau putar-putar lagi kemudi dalam genggammu
Menerpa badai
Tumpuan kakimu tampak kokoh
Aku yakin pijakan itu takkan goyah

Titik peluh di keningmu
Membias bersama pelangi

Menghardik setiap mendung pagi
Menyingkap kemalasan
Dan kau putar-putar lagi kemudi dalam genggammu
Menuju tempat terindah



Catatan Harian Lona


“mamaaa..” teriak Lona. Mamanya tersenyum simpul.
Lona, gadis kecil berumur enam tahun. Pagi itu Lona sedang berlari-lari kecil di beranda rumah. Melambai-lambaikan tangan kepada Bu Zulaikha, mama Lona, yang sedang duduk lemas di bangku di teras rumah.
Lona adalah bocah periang. Keceriaan selalu merabai hari-hari bocah ini. Ia dibesarkan dibawah kasih sayang sang bu Zulaikha, sendiri. Lona tak tahu bahwa ia dibesarkan dengan tanpa seorang ayah di sampingnya. Ketika Lona bertanya tentang ayahnya, Bu Zulaikha berkata bahwa ayahnya sedang berlayar ke negeri entah berantah sana. Lona percaya. Ia belum tahu apa-apa. Yang ia tahu, ia bahagia bersama mamanya. Ia belum mengerti, bahkan tidak mengerti betapa sakit yang berkecamuk di dalam hati Bu Zulaikha, mamanya.
***
Catatan Harian Lona. Tertulis rapi di sampul buku kecil berwarna pink manis. Lona mulai menulis kata demi kata yang akan ia rangkai menjadi sebuah catatan harian. Kata-katanya indah untuk bocah seusianya.

Minggu, 01 Januari 2012

Tadi pagi Lona berlari-lari sambil main air. Seneng banget. Segeer banget. Tapi Lona main sendiri. Mama duduk aja siih di teras.
Ya Allah .. Mama kenapa Ya Allah ..
Semoga mama Lona tidak apa-apa Ya Allah ..
Ya Allah .. Lona liat-liat wajah mama pucat terus .. Kalo mama sakit .. Cepat sembuhkan mama Ya Allah ..
Kalo mama kangen sama ayah .. Semoga ayah cepat pulang Ya Allah .. Karena Lona juga kangen sama ayah ..
Ya Allah .. Lona bahagia kok hidup dengan mama aja ..
Beri kesehatan pada mama Ya Allah .. Kalo mama sakit, Lona pasti nggak bisa sekolah. Kalo mama sakit Lona juga nggak bisa menali tali sepatu Lona, Lona nggak bisa maen-maen air di depan rumah sama mama.

Begitulah isi catatan Lona untuk malam ini. Setiap malam, Lona menyempatkan diri untuk menulis catatan hariannya. Ia akan selalu mengadukan kepada Tuhannya tentang apa yang ia alami di setiap harinya.
Ada juga isi catatan Lona 
hari-hari kemarin
Minggu, 13 Maret 2011

Tadi Lona liat mama bertemu dengan seorang laki-laki. Siapa ya?
Tapi tadi Lona juga liat mama nangis-nangis. Lalu mama masuk kamar mandi. Mama batuk-batuk. Lalu di baju mama ada darah. Di mulutnya juga ada darah. Mama kenapa yaa?
Wajah mama pucat. Tubuhnya lemeees banget. Sampe-sampe Lona nggak sarapan tadi pagi. Tadi sore juga Lona nggak makan. Tapi tadi lona beli ayam di depan sekolah Lona. Lona beli satu. Lalu Lona berikan kepada Mama. Mama makan. Habis. Mama tanya “Apa Lona udah makan?” Lona mengangguk. Tapi mama masih pucat. Abis makan Lona liat mama minum obat. Banyaaak banget. Apa mama sakit? Semoga tidak Ya Allah..

***

Sabtu, 30 Juli 2011

Ya Allah tadi Lona bahagia banget. Pas pulang sekolah, Lona di beliin eskrim sama om-om. Omnya baik. Lona kira om itu jahat. Malah enggak. Om itu mengantarkan Lona sampai rumah. Ternyata Om itu udah tau rumah Lona. Lona ajak mampir tapi malah nggak mau.
Abis itu Lona jalan-jalan sama mama. Kata mama hati ini ulang taun Lona. Usia lona udah enam taun looh. Udah gede kan Lona? Mama beliin boneka Angry Birdh buat Lona. Lona seneeeeng banget. Tadi tadi pas lagi makan mama jatuh pingsan. Lona takut banget Ya Allah. Tapi mama pingsan Cuma sebentar. Lalu kita pulang. Mama mengantar Lona ke kamar. Lalu Lona dikelonin sama mama. Allah.. Lona tadi pura-pura tidur aja, nggak dosa kan? Lalu mama pergi dari kamar Lona. Terus Lona bangun deh.
Ya Allah.. Jaga mama ya.. Lona sayang sama Mama.

***
“Lonaa nggak punya ayah .. Lona nggak punya ayah .. Lolaaa nggak punya ayah ..”
Ejekan-ejekan itu sudah tak asing lagi bagi Lona. Gadis sekecil ini sudah mengerti apa arti kesabaran. Ia sabar menghadapi teman-teman yang penuh dengan cemooh setiap bertemu dengannya. Bukan, bukan teman-temannya, tapi disebut apalah itu harusnya. Ia tak punya teman. Di sekolah Taman Kanak-kanak, ia duduk sendiri. Di bangku paling pojok dan paling belakang.
Lona mengadu pada ibunya seketika itu. Tapi setiap ia mengadu Bu Zulaikha hanya diam. Tak pernah ada komentar. Berkomentarpun itu akan membuatnya semakin merasa bersalah. Bukan salah Lona ia lahir tanpa ayah, bukan salah siapa-siapa pikir bu Zulaikha. Salah dirinya yang terjerembab dalam buaian hawa nafsu.
Lalu segera saat malam, Lona mengambil catatan hariannya ..

Rabu, 11 Januari 2012

Lagi-lagi temen-temen ngejekin Lona. Mama nggak mau peduliin Lona. Lona tadi nangis di kamar mandi. Malu kalo nagisnya di depan temen-temen. Pasti ntar Lona dikatain anak cengeng. Bu guru nggak tau kalo lona nangis.
Lona bilang sama mama. Malah mama dieemmm aja. Lola nangis lalgi di kamar. Sebenarnya ayah Lona dimana siih? Ya Allah.. Allah tau nggak di mana ayah Lona? Kok ayah Lona nggak pernah pulang ya? Fotonya juga Lona nggak tau.
Tapi tadi pas Lona pulang Lona dibeliin lagi es krim sama om-om yang kemarin. Lona juga dianterin lagi sampe rumah. Oh lona baru ingat, dia kan laki-laki yang kemarin pas dulu itu nemuin mama. Tapi ka nom ini baik. Tapi kok mama nangis ya?

***
Danar. Ya, Pak Danar nama lelaki itu. Lelaki yang beberapa kali Lona tulis dalam catatan hariannya. Lelaki yang beberapa kali membelikannya eskrim dan mengantarnya pulang. Pak Danar, dia juga yang kemrain dulu sempat menemui Bu Zulaikha, mama Lona. Lelaki yang sempat Lona lihat yang menemui mamanya. Lelaki yang sejatinya adalah Ayahnya, Ayah kandung Lona.
                “Ma .. Mama .. Ma, bangun Ma, Lona berangkat pagi loo..!!” Lona mengguncang-guncangkan tubuh mamanya yang masih terbaring lemar di tempat tidur.
                “Mama .. Mama capek ya? Ya udah Mama bobok aja yaa yang nyenyak. Lona berangkat sekolah sendiri aja.” Lona tak berhasil membangunkan sang mama. Untung saja sekolah Lona nggak jauh dari rumahnya. Cukup naik ojek saja sudah sampai. Kebetulan di depan gang ke kiri sedikit sudah bisa ditemui pangkalan ojek.
Sebelum berangkat, Lona menyiapkan roti oles mentega untuk sarapan sang mama. Ia letakkan di sebelah tempat tidur Bu Zulaikha. Tak lupa ia selipkan note di samping nampan ..
Ma.. ini Lona udah siapin sarapan buat Mama. Dimakan yaa.. Hari ini hari rabu Maa .. jangan lupa Mama jemput Lona ya.. Kan Mama ada arisan di mamanya Ditto .. oke Ma !! Lona berangkat ya Ma ..
***
Lona masih menunggu mamanya di gerbang sekolah. Sampai Pak Tejo, ketua RT sekaligus ayah Ditto, menjemput Lona. Dengan tergesa pak tejo mengajak Lona pulang. Lona mengikuti Pak Tejo.
                “Pak RT kok Pak RT yang jemput Lona? Mama lagi sibuk arisan ya di mamanya Ditto. Wah pasti mama yang dapet arisannya ya?”
                “Looh kok Pak RT diem?”
Pak Tejo masih saja terdiam. Dia benar-benar terbungkam. Pertanyaan polos Lona membuat hatinya pilu. Seorang gadis sekecil ini, sepilis ini dan sepintar ini harus hidup sebatangkara mulai detik ini. Dalam hari pak teji tak berhenti menyebut asma Allah. Ia bingung bagaimana harus menyampaikannya pada Lona.
Sesampainya di depan gang ..
                “Waaah .. rumah Lona rame banget Pak RT!! Ooo.. Arisannya pindah di rumah mama ya? Tapi kok mama nggak bangun pagi ya?”
Mendengar paparan Lona pak RT kaget sekaget-kagetnya. Ia masih tercekat tak bisa berkata-kata. Lalu ia biarkan Lona menghambur masuk kedalam rumahnya.
                “Mama .. Mama .. Lona udah pulang Ma .. Lona dijemput sama pak RT ma .. Papanya ditto baik yaa Ma ..”
Orang-orang berkerumun. Sesak sekali. Lola mencari mamanya sambil berkata-kata. Tapi ia tak ditemukan. Raga Bu Zulaikha sedang di mandikan sebelum di pakaikan kain kafan. Setiap mata akan iba memandang Lona.
Lona polos menghampiri ibu Ditto.
                “Mama Lona dimana mamanya Ditto? Mamanya Ditto tau nggak?”
“Itu mama Lona .. Sedang dimandikan. Lona nunggu di sini yasama mama Ditto! Sebelum nanti mama dikafani, Lona boleh peluk cium mama untuk yang terakhir.” Sambil menahan tangis mama Ditto berkata lembut pada Lona.
Setelah tubuh bu Zulaikha selesai di mandikan, Lona lekas berlari menghambur ke tubuh ibunya. Lona kecil mengangis sejadi-jadinya. Bahkan ia sudah mengerti arti kematian dan arti kehilangan.
***

Minggu, 22 juli 2012

Untuk Mama ..
Haloo Ma .. Apa kabar ?
Mama baik-baik kan di sana? Mama bahagiakan?
Ma .. Lona kangen .. Lona sekarang tinggal sama temen Mama. Temen mama yang dulu pernah Lona liad sedang nemuin mama di depan rumah. Lalu mama nangis abis itu. Lalu mama batuk-batuk dan berdarah. Katanya dulu dia temen deket mama, ma. Namanya Pak Danar ma. Tapi Lona disuruh manggil dia Ayah. Lona bahagia deh ma. Lona sekarang udah punya ayah ma. Tapi kenapa Lona punya ayah pas mama udah pergi?
Ma sekarang Lona udah kelas satu loo .. Kata Pak Danar Lona itu pinter Ma .. Katanya Mama hebat bisa melahirkan Lona yang pinter Ma..
Ma .. Kenapa Mama nggak cerita sama Lona kalo Mama sakit? Harusnya kan Lona bisa bantu Mama. Lona janji Ma, Lona bakal jaga kesehatan .. Jaga kesehatan untuk Mama .. Lona akan hidup bahagia Ma .. Lona emang masih kecil Ma .. Tapi Lona ingin belajar dewasa Ma. Biar kelak Lona bisa tegar kayak Mama ..
Mama .. Sampaikan salam Lona ke Allah ya.. Agar Allah jaga Mama dengan baik di sana .. dan jaga Lona di sini bersama ayah baru Lona, Ayah Danar..
Sudah dulu ya Ma.. Salam kecup dari Lona .. Lona sayang Mama ..

Ayah part #1


Aku tetap disini
Bersama sepenggal ketakutan
Badai begitu besar menerpa

Aku dan keadaan terlarut dalam genangan air
Aku menangis bersama rintik hujan
Lukaku tak berhenti menganga
Melihatnya sungguh memilukan

Aku hanya bisa berdiri mematung sesenggukan
Hanya menjadi penonton
Aku tak mampu menjadi siapa-siapa
Aku bukan dokter atau tabib yang menyembuhkan
Aku hanya begini dan seperti ini
Kasih lekaslah seperti engkau ada si sampingku
Melebur dalam canda

Ayah

TUHAN


Tuhan ..
Diamku bukan berarti emas ..
Diamku tiada guna ..

Tuhan ..
Berilah intan maaf padaku
Kuminta karena beliau waliku

Tuhan ..
Apa daya diri dalam nestapa ini
Hanya meringkuk dalam temaram jalan

Tuhan ..
Dalam damai hamba meminta ridhomu

Tuhan ..

Jumat, 16 November 2012



Aku masih terengah sampai di pertengahan jalan ini
Separuhnya lagi di persimpangan jalan aku harus berpikir
Tentang jalan yang akan ku lalui?

Aku terus bertanya pada lorong kecil di samping jalan
Tapi mereka terdiam
Maka aku lanjutkan lagi setengah jalanku menuju persimpangan

Kulihat ada banyak manusia di ujung jalan satunya
Tapi mereka saling acuh satu sama lain
Ada beberapa manusia saja di ujung jalan lainnya
Tapi mereka saling diam ..
Menyembunyikan pandang ..
Tapi mereka tertutup ..
Tak mengumbar amarah dan emosi jiwa ..

Dan aku ingin melewati  jalan ini

Tapi ..
Banyak semak berduri membujur di tengah nya
Binatang-binatang pengganggu ada di sana ..
Gersang ..
Aku takut
Tapi aku memilih jalan berduri ini

Ketika Ayah Merindu


Jarum pada jam dinding menunjukkan bahwa hari sudah sore. Kini tiba saatnya aku menjemput tempat peraduanku. Menemui gubuk yang cukup kokoh untuk berteduh. Mencumbui tempat tidurku yang nyaman. Dan mengagumi setiap detik-detik yang berlalu dalam istirahatku.

Lelah merabai tubuhku setelah seharian menjalani rutinitas yang satu ini. Kerja. Sembilan jam kadang terasa begitu cepat. Namun Sembilan jam kadang pula terasa sangat lama. Pulang adalah tujuan di ujung sore di hari-hari yang aku lewati.

Selasa, 13 November 2012

- Berkarya Melalui Rasa -


Iyakah Allah sudah ciptakan malaikat kecilnya untukku disaat aku mulai merasa sendiri??
Iyakah Allah telah ciptakan makhluk terbaiknya untuk menemaniku di saat akuu mulai merasa sepi??

Hanya tak ingin berdiam saat hati gelisah..
Hanya ingin ada yang peduli saat aku tak meminta..
Hanya ingin curahkan senyum ini saat ternyata hati sakit..

Semua terasa berbeda dengan sendirinya.. dengan tiba-tiba..

All About You - Mom n Dad


Entah berapa lagi deras keringat yang engkau cucurkan demi kami, ayah ..
Dan entah seberapa hangatnya belaian kasih yang engkau curahkan untuk kami, ibu ..

Ayah .. Ibu ..
Kalian beri kami kekuatan yang tak terperi
Kalian mengerti kami melebihi kami mengerti diri kami sendiri
Kalian adalah tonggak dalam perjalanan kami

Ayah .. Ibu ..
We love you more than i love self

Ayah .. Ibu ..
Yang seperti dunia katakan bahwa "you're everything"

Aku dan Hujan

Kala hujan
Terbenam sudah sebuah harapan
Menyendiri dalam kesendirian
Terdiam dalam keheningan

Menyelam indah dalam rintikan
Satu per satu mereka kunjung meramaikan suasana
Menitik tepat di titik tengah dahiku
Menyentuh seakan mereka tau akan sepiku
Menerjang mengajak perjalanku yang panjang
Menyuport dalam keadaan apapun aku

Hanya aku dan hujan kini yang ada
Tak ada mereka
Karna yang acuh takkan sadar akan sebatang yang berdiri

Bangun dalam lelap yang panjang dan tak gelap
Menyongsong mimpi yang indah dan cerah
Bersama hujan aku lakukan
Bersama hujan yang temani setiap nafas menghirup dan menghembus

Brother's Wedding


Sabtu, 19 Mei 2012


Pada saat itu aku harus punya satu catatan. Catatan manis yang tak akan pernah terlupakan. Bukan kemarin, bukan pula esok, dan yang jelas bukan tak ada waktu tapi aku tak tau kapan waktu itu akan tiba. Cuma ingin bahagia. Bahagia entah dengan siapa, dan dengan siapa ku kan berbagi kebahagiaanku itu.. Yang pasti bukan kebahagiaan semu, namun kebahagiaan yang benar-benar ingin aku wujudkan, ingin aku tunjukan pada dunia bahwa aku bisa dan mampu seperti mereka. Seperti kakakku menjelang hari sakralnya bersama belahan jiwanya, bersama bidadari cantik kiriman dari surgaNya.

Aku Menyangimu Dalam Diamku


Teruntuk adik-adikku     :
- Danang Yuliyanto
- Gheta Isgarninda
- Ravella Maulida Safitri
- Radhika Devanda Veros
Semoga kalian selalu tau aku menyayangimu dalam Diamku

Jadilah kau yang terbaik sayang
Bila Bundamu telah tiada,
Itu bukan berarti kalian sendiri di dunia
Masih ada aku dan mereka

Gelegar Kalbu



Peluk aku dalam ampunan-Mu Ya Rabb..
Ajarkan aku yang Hak
Beri aku pengertian akan kebatilan
Jauhkan aku dari keburukan
Agar selalu yang ku tau adalah Kebenaran

Teruntuk Ibu


Biarkan aku menggenggam tanganmu yang tak kuat seperti dulu lagi

Biarkan aku menopang kakimu yang tak kokoh seperti dulu lagi

Biarkan tanganku mengusap air mata yang mengalir di pipimu

Biarkan aku menyongsong segala beban di pundakmu

Dan Izinkan aku menyejukkan hatimu

Izinkan akuu...