Sabtu, 22 September 2012

Teracuh, Terjatuh

Bulir bening mengucur sia-sia
Awak terbujur layu berisyarat
Menatap langit lekat
Ahh.. Ternyata tak ada apa-apa, tak ada siapa-siapa..

Bayangnya teracuh

Menggali lubang yang sama
Hanya lebih dalam dan dalam
Menggelegar petir yang menghujam
Menari-nari hujan dalam rebahan malam

Pandangan itu tertuju tampak semu
Ada seonggok batu
Satu dan terjatuh

Jedaaaarrrr !!
Memekik telinga
Memecah gendang
Tapi mereka tak mendengar

Mengeluh peluh seonggok batu
Terbujur kaku pada lubang sama yang lebih dalan dan lebih dalam lagi
dan terjatuh
dan teracuh

Sabtu, 01 September 2012

18 Desember

Memandang indah hari yang lalu. Hari yang terlewat oleh angin sepoi menjelang runtuhnya detik air kala hujan. Hari yang telah terbias walau cahaya mentari tak ubah menerik dari satu hari kemarin bahkan satu bulan yang lalu dari Desember ini. Begitulah kebiasaan Ola disetiap raut wajahnya mulai memuram mengingat kisah lalu. Merenung gelap sejak ia mengenal seluk beluk lubuk hati yang bersandar rapuh atas nama "Cinta".

Satu tahun.. Dua tahun.. Bahkan tiga tahun telah berlalu.
Bahagia, riang, suka, canda, dan tawa Ola melebur dan mengering bagai es terpanggang terik mentari. Meleleh. Lenyap dan menghilang.
Cinta yang ia rasa akan terus ia genggam kini menghilang tanpa harapan. Kisah kasih yang ia kira akan bisa ia bawa sampai mahligai indah sebuah ucapan suci tali pernikahan itu terkubur lumpur hitam pekat lekat. Seperti tak kan ada satu tangan dapat membongkarnya. Bahkan untuk saat ini mungkin kaki yang kokoh pun tak akan sanggup melintasi barang satu langkah.