Selasa, 25 Desember 2012

Menulis

Menulis ibarat kehidupan dan dunia.
Kadang otak akan merasa buntu bahkan sangat buntu untuk sekedar menentukan tema.
Anda yang penulis demikian pula bukan? Kalau iya, manusiawi kok.
Hemm ada sedikit tips nih buat pembaca ataupun buat penulis yang masih amateur seperti saya.

Cek it out guys untuk tips dariku :

“Selamat Hari Natal”

Cahaya sempat nukil dari status di sebuah jejaring facebook .. Isinya sebuah percakapan dua sahabat .. Begini ..

Petrus   : kenapa kamu tidak mengucapkan "Selamat Hari Natal" buatku?
Ahmad  : tidak temanku, aku dilarang oleh agamaku untuk itu.
Petrus  : Tapi kan teman-temanmu mengucapkannya. lagian itu kan hanya beberapa kata saja?
Ahmad  : mungkin mereka belum mengerti. apakah kamu bisa mengucapkan 2 kalimat syahadat temanku?
Petrus   : oohhh, jelas tidak bisa.
Ahmad  : Kenapa tidak bisa? itu kan hanya beberapa kalimat saja?
Petrus   : yaaa, aku mengerti maksudmu temanku. maafkan aku tadi.

Kehidupan

Ada daya di atas mantra
Menyembul melukis kekuatan
Jika dunia tak ada lagi sengsara
Maka tonggak yang menjulang adalah percuma

Ada rumus di balik kehidupan
Menyongsong waktu kelam
Jika hujan tak bersanding badai
Maka dunia tiadalah arti

Ada tawa di samping tangis
Menyeruak menyeringaikan bahagia
Jika tangis hanyalah tangis
Apa pula arti tawa dalam bahagia

Ada kehidupan setelah kehidupan
Lalu hidup setelah hidup
Laiknya mati setelah hidup
Dan hidup setelah mati

kisah klasik dua sejoli


Dua hati tlah terpadu dalam masa
Benih cinta tengah tumbuh mengembang
Maka, sejoli yang takkan mampu berjarak

Dua insan dikalang rindu
Memproklamir cinta yang sempat membeku
Dalam kisah klasik nan syahdu

Kini dua insan tak memiliki dua hati yang dipadu, lagi
Hati bergeming
Berpaling dari rindu yang menyemai dalam nurani

Air mata yang terjatuh membasahi bumi
Tak bisa menyirami bunga yang tlah layu tersisih
Benih kasih mengering mengiring
Cinta hilang terhempas terkapar dalam sanubari, dan lalu mati

Senin, 17 Desember 2012

Untukmu .. Sahabat ..


Peluh teduh di ronamu menyirat akan juang
Hatimu yang meronta tak dapat ku genggam
Sinaran wajahmu meraup gelap
Layangkan deritamu menggelayut tanpa ku hapuskan

Sakit tertoreh dalam linangan air mata
Sesak sembilu nafas
Daging-daging dibalik selaput kulitmu mengerdil
Menyurut sorot tajam bola penglihat

Baris doa berjejer rapi dalan tengadah tangan
Untukmu

Sahabat ..


Gadis Kerudung Hijau

Berhubung nggak ada obyek jadi narsis dah :D

Alhamdulillah ..
Kerudung hijau telah melingkar di kepalamu
Hingga bagian-bagian kepalamu tertutup
Kecuali wajah ayu yang menyirat niatan baik
Kau ulur kerudung itu hingga menutup dada

Kau kenakan pula jubah gamis hingga lekuk tubuhmu takkan pernah terlihat

Ohh sungguh ayu kau di pandang
Siapakah engkau wahai Gadis Berkerudung Hijau?
Yang menghampiriku kala tidurku berbunga

Siapakah engkau Wahai Gadis Berkerudung Hijau?
Hingga mimpi-mimpiku terlihat begitu nyata

Hidup Ibarat Kerupuk





Hidup ibarat kerupuk
Renyah dan gurih
Tapi ..
Lain ketika ia sampai pada dinding-dinding geraham manusia
Kriuk.. kriuk ..
Suaranya memilukan bagi pendengar
Hingga renyahnya berubah menjadi kebisuan

Hancur ..
Terhempas hanyut sampai kerongkongan
Gelap ..
Hingga ia berdermaga dalam lambung
Dan mengalir kembali ke dermaga-dermaga selanjutnya ..

Hingga sisa-sisanya terbuang
Sia-sia

CAHAYA LURUSKU



Cara menemukan sinarmu adalah dengan cinta

Alangkah indah namamu kan kusebut dalam setiap doa

Hanya sajak dan bait kata untukmu

Ada dan tiadanya dirimu di duniaku, adalah tetap ada dalam memoriku

Yakinku akan terus memelihara sinar itu

Aku bersama peluh-peluhku dalam aliran keringat kemarin sore

Waktuku..


Mozilla selalu hangatkan hariku
Temani sepi-sepiku
Menyandingku

Bersama google chrome aku mengais-ngais sebuah nama dalam dunia maya
Bola mata berputar mengikuti tanda buffering di layar datar
Jemari memijat keyboard hitam di depannya
Dan ku gulung-gulung scroll pada mouse kecil berkelip lampu biru, kuning dan merah

Windows XP nyamankan operasi
Sesekali kubuka Microsoft Office Word sebagai ladang tulis
Ku tulis kata-kata
Kata-kata indah dan bersajak

Dan ku hapus memori-memori halus pengganggu otak
Kubawa kedalam sebuah lingkup
Recycle bin sebutannya
Dengan CCleaner, bersama sampah-sampah berserak lainya akan ku hempas lalu

Aku Salah


Hanya di pertigaan malam
Ya ..
Jenuhku akan menghilang
Aku berharap menemukan sosokmu
Tapi ..
Tak pernah ku temukan

Hanya di pertigaan malam
Ya ..
Damai akan kurasakan
Aku berharap kan slalu terjaga untuk bersua denganmu
Tapi ..
Aku salah ..
Harusnya bukan sesosok itu yang ku tuju ..

Tapi.. DIA ..
Yang masih sudi membangunkan ragaku saat aku tak meminta
Mengingatkanku saat benar-benar salah melangkah
Dan mengetuk kelopak mataku saat aku benar-benar lupa

Ya.. DIA ..

“SEMANGAT”



Ku sarapi pagi dengan “SEMANGAT”
Mengayom cita
Ku kembang asa yang memupus

Ku berjalan beralas “SEMANGAT”
Merapikan langkah
Kututup lubang-lubang yang berencana menjerembabkan kakiku

Ku terlelap berselimut “SEMANGAT”
Meletakkan lelah
Ku genggam doa sepucuk

Ku terbangun dalam “SEMANGAT”
Dan
Melipat rapi mimpi-mimpi buruk yang mengatung

kamu dan DIA

Ingin rasanya menggebrakkan kejenuhan ini ke tanah datar
membiarkan mereka saling hancur dan meruntuh menjadi puing-piung
dan berlari bersama udara seperti debu
Membungkam lara
Mengubah derita

Selasa, 27 November 2012

Ayah part #2


Tanpamu .. Aku bagai burung dalam sangkar ..
Kau mengulas kebaikanku dan mengubur keburukanku ..
Menjaga lisanmu untukku ..
Kau ikuti setiap langkahku

Nasihatmu adalah bekal bagiku ..
Kata-kata sejuk itu menancap erat di dalam kalbu ..
Kata-kata yang kau ujarkan seperti mutiara-mutiara dalam otakku
Saat buntu, kalimat-kalimatmu yang kuingat

Perangaimu adalah yang terbaik dalam penglihatku
Teladan saat aku lengah
Sehatmu adalah bahagia bagiku
Doamu menyanding dalam lelapku

Lihat .. kini aku ikut tergolek
Semangatku terbang bersama angin
Senyumku terbias bersama semburat mentari
Malamku melejit seperti sambaran kilat
Cepat searah putaran jam pada dinding

Aku butuh waktumu
Kembalillah menyandingku dalam canda
Ayah ..

Sahabat Baru


Sahabat Baruku
"Sejuta Pelangi" Adikarya Oki Setiana Dewi

Buku “SEJUTA PELANGI” karya Oki Setiana Dewi (OSD) ini adalah sahabat baru di pertengahan bulan ini.  Waaah .. Padahal sahabat-sahabat yang lain juga belum kelar kubaca.

Jumat, 02 Nopember beberapa hari yang lalu, sambil nunggu tebengan dateng (hehe maklum buat jaga-jaga biar si wallet tetep eksis tebelnya, hehehe o.O) cahaya iseng-iseng jalan-jalan ke toko buku “Eka Jaya” Jl. Kyai Muntang 99 Wonosobo. Uwaaah .. Banyak banget tuuuh yang namanya novel-novel tebel yang nantangin mata biar tiap malem tetep jeger mantengin tuh novel. Setelah satu deret dua deret dan beberapa deret rak-rak novel sudak kupijaki, ternyata kagak ada satupun yang mampu bikin mata kecantol buat baca sedikit resensi di sampul belakang.
Anyway.. nggak mungkin juga kan uda bolak-balik, mondar-mandir nyari dan tanya ini itu ke pelayannya trus nggak jadi beli. Mau nggrundel kaya apa tuh mbak-mbak pelayannya? Lalu capcus aja deh mumpung ad aide buat pura-pura pesan buku. Eeee.. ternyata bias. Okelah nggak apa-apa. Aku tertarik pada buku-buku OSD. Ada MELUKIS PELANGI (OSD first book), SEJUTA PELANGI, dan CAHAYA DI ATAS CAHAYA.

Isinya luar biasa. Rangkaian kata-katanya runtut banget. Buku Pernik Cinta OSD “SEJUTA PELANGI” berisi curahan-curahan OSD tentang orang-orang di sekelilingnya. Cahaya memang baru membaca separuhnya saja. Tapi judul ini “Perjuangan Seorang Guru Besar- Agar Hidup Lebih Hidup”, aku tertarik. Dengan cepat mataku sliweran membaca setiap kata-kara yang berjejeran. Hingga aku menemukan ini dari deretan catatan OSD,

Suatu hari, aku pernah iseng bertanya kepada Prof. Helmi, “ Prof, apa motivasi Anda menjadi professor?” Beliau menjawab singkat, “Saya ingin bermanfaat bagi orang lain.”

Sepenggal tulisan yang sejak kini masih mengiang-ngiang di kepala. Tujuan Profesor Helmi adalah hanya ingin bermanfaat bagi orang lain. Sungguh keinginan yang mulia. Bahkan itu Beliau katakan saat beliau dalam keadaan sakit. Ini terbukti dari cerita OSD di paragraph pertama,

          Mataku terpaku menatap mesin pencuci darah yang menggantikan tugas ginjal Prof. Ahmad Suhelmi selama enam tahun belakangan ini.

Beliau bahkan tengah enam tahun memikul penyakit itu dalam hidupnya. Bahkan tentu beliau ingin sembuh hanya untuk bias bermanfaat bagi orang lain. Subhanallah.

Sungguh OSD sangat pandai merangkai kata-kata dalam catatannya. Nggak kaget deh kenapa bukunya di minati banyak kalangan ini.
          

Bingkisan Cantik


Aku menghitung hari ..
Menunggu hadiah dari-Mu ..
Akankah sampai di tanganku?
Bingkisan Cantik yang entah di mana ENGKAU titipkan ..

Kupesan kebahagiaan ..
Bercampur setitik cahya terang ..
Ku kumpulkan lisan doa untuk janji-Mu ..
Sebuah Bingkisan Cantik

Aku masih menghitung hari ..
Menunggu hadiah dari-Mu ..
Bersisi secercah harapan ..
Dalam Bingkisan Cantik ..