Hal yang paling jauh adalah masa lalu.
Dulu, dengan bangga aku akan mengibas-ibaskan
rambutku; menyematkan bandana-bandana berbagai model, lucu, di rambutku;
menyibakkan poni dengan jepit warna warni; mengucir dua dan dampai mengepangnya
indah dan rapi. Dulu, dengan bangga aku akan berlenggak lenggok di depan cermin
sambil sesekali menyisir rambutku: yang barangkali mengusut. “ah .. rambut
kusut, nanti nggak oke lagi nih..” batinku. Dulu. Dan dulu itu bisa saja
berarti sepuluh tahun yang lalu, lima bulan yang lalu, atau bahkan satu detik
yang lalu.
Dulu, bagiku rambut adalah mahkota, letak
kerapianku. Bahkan aku membanggakannya. Membanggakannya hingga aku akan rela
menyisihkan sekeping demi sekeping uang saku sekolahku demi merawat rambutku. Shampoo,
condisioner, vitamin rambut, semua aku beli tanpa belas kasihan terhadap LKS
mapelku yang belum terlunasi. Membanggakannya hingga aku rela mengecatnya dan
menyiksanya dengan catok: alat untuk merapikan rambut. Sampai bahkan aku rela
memamerkannya ke khalayak ramai.. Afwan.. mungkin jika bias bicara si rambut
akan berteriak kesakitan dan tak terima ia terjuntai dan dilihat khalayak
ramai.
Kini aku menyesal. Kenapa tak sedari dulu
saja aku mendengar lolongan hati yang menginginkan si empunya-nya mengenakan
jilbab. Mungkin dunia terlalu berisik sehingga aku mendengarnya hanya lirih
atau mungkin tak mendengarnya sama sekali.
Suatu hari di kantorku bekerja, di tahun
2011, aku tak sengaja mendengar 2 rekan kerjaku: Pak Tri dan A’ Koang sedang
berbincang asyik. Lama-lama aku terjebak dalam obrolan mereka dan ikut
nimbrung.
“wah .. sekretaris di PT X lhaa .. seperti
dia itu yang cantik .. pake jilbab terus kemana-mana.” celetuk Pak Tri dengan
logat jawanya yang kental, berwibawa.
“Ah, kata siapa, orang waktu saya kirim
barang untuk PT X ke rumahnya waktu itu dia make celana di atas lutut, baju
pendek, di kantor aja kali pakai jilbabnya, orang kamana-mana kadang the gak
make jilbab. Pas saya ke sana itu teh pake baju pendek jiga biasa wae atuh,
nggak malu langsung ke dalem dulu gitu ambil jilbab kek atau pakai panjangan
dikit kek bajunya. Kagak.” A’ Koang menyangkal dengan nada sunda berkombinasi
bahasa.
“plin plan dia mah” lanjutnya.
Deg.
Jantungku serasa berhenti sejenak. Lalu diikuti
dengan desiran darah di urat nadi yang menderas, diiringi detak jantung yang
kurasa menyepat.
Kalimat-kalimat itu menghujamku sampai sendi.
Obrolan kecil itu seperti menyindirku.
Esok hari tanpa berpikir panjang, dengan hati
takut tersindir(lagi), aku putuskan untuk berjilbab. Kapan pun dan di mana pun
aku berada. Khususnya di depan dua rekan kantorku itu. Meski belum konsisten
setidaknya tak kelihatan plin plan di mata mereka. Setidaknya aku akan aman
dari tema obrolan mereka. Setidaknya obrolan kecil tempo hari tak lagi mengiang
dalam otakku. Setidaknya obrolan kecil mereka itu tak lagi sindiran untuk hatiku.
Lima bulan sudah aku bekerja di kota
tetangga. Aku seperti bukan aku kala itu. Aku berbeda. Aku menadi lebih rajin
sholat dan membaca al-quran. Sholat malam selalu aku sematkan di pertigaan
malam. Terkadang aku menangis tersedu-sedu, kadang hanya mengisak kecil namun
dalam. Aku merenung betapa kejam hidup di kota tetangga ini. Aku tak nyaman di
dalamnya. Aku tak bebas menjalani hidup di sini. Teman rekan kerjaku ada yang
sadis, bukan padaku, namun pada teman sekantorku yang lainnya lagi.
Aku jenuh, aku takut lagi mengarungi hidup di
sini. Aku rindu ibu yang selalu cerewet. Aku rindu ayah yang kata-katanya
menentramkan hati.
Aku putuskan untuk kembali ke kampung halaman
nan asri. Wonosobo. Sejengkal pengalamanku di kota tetangga membulatkan niatku
untuk semakin konsisten dengan jilbab. Jilbab tipis segi empat kutekuk menjadi
segitiga sama sisi dan pendek sebahu itu, yang ujung depannya kusematkan di
bahu dengan peniti selalu bertengger rapi menutup rambutku yang dulu aku siksa
dengan memamerkannya ke khalayak ramai.
Lambat laun, bagai sudah janjian, adikku:
Nina, juga tengah memantapkan hati untuk berjilbab. Tipe jilbab kami masih
sama, jilbab dengan luas 1x1 meter tipis dan terawang, jilbab bahan paris, begitu
orang-orang menyebutnya.
Satu tahun berlalu. Jilbab menjadi perantaraku
menyaksikan Mahaesanya Allah. Banyak ilmu yang aku dapat seiring dengan
berjalannya waktu. Semakin banyak ilmu yang ku dapat, semakin haus aku akannya.
Aku menjadi paham mengapa Allah memerintahkan Nabi agar menyuruh
wanita-wanitanya(isteri dan anak perempuan) menjulurkan kain dari kepala sampai
dada. Aku menjadi mengerti apa itu aurat. Aurat adalah bagian-bagian tubuh manusia
yang harus ditutup dan dijaga dari pandangan non-mahram, baik laki-laki maupun
perempuan. Batasan aurat perempuan adalah seluruh bagian tubuh, kecuali telapak
tangan dan muka. Sedangkan aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut.
Kali ini bukan bagai tengah janjian lagi,
namun aku dan adikku benar-benar sepakat untuk memantapkan niat mengenakan
hijab: baju kurung dan jilbab besar menutup sampai ke dada.
Semakin banyak ilmu yang aku petik. Semakin
dan semakin dahaga ilmu kurasa. Allah selalu memberi kejutan kepada hamba-Nya
dari arah yang tak terduga-duga. Banyak ilmu yang datang dari segala arah. Aku terkesima.
Tak jarang aku bersimpuh, betapa kecilnya aku. Aku hanya selalu mengharap
pemberian yang lebih dari Allah sedangkan aku tak pernah berbuat apa-apa.
Subhanallaah.. Maha suci Allah..
Aku jadi teringat ada beberapa orang yang
berjasa dalam perubahanku. Ustadzku terhormat, ayah, adik, dua rekan kerjaku:
dulu, dan teman-temanku. Terimakasih Allah .. segala puji bagi Engkau yang telah
menegurku dari obrolan kecil Pak Tri dan A’ koang waktu beberapa tahun silam. Tanpa
engkau memberi perantara itu, mungkin aku sekarang tak bermoral, tak beradab,
tak berbelas kasih terhadap aurat.
Hidayah itu memang takkan pernah datang jika
hanya ditunggu. Hidayah itu datang jika kita mencari. Obrolan kecil itu
Hidayahku.
I love hijab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar