Memandang indah hari yang lalu. Hari yang terlewat oleh angin sepoi menjelang runtuhnya detik air kala hujan. Hari yang telah terbias walau cahaya mentari tak ubah menerik dari satu hari kemarin bahkan satu bulan yang lalu dari Desember ini. Begitulah kebiasaan Ola disetiap raut wajahnya mulai memuram mengingat kisah lalu. Merenung gelap sejak ia mengenal seluk beluk lubuk hati yang bersandar rapuh atas nama "Cinta".
Satu tahun.. Dua tahun.. Bahkan tiga tahun telah berlalu.
Bahagia, riang, suka, canda, dan tawa Ola melebur dan mengering bagai es terpanggang terik mentari. Meleleh. Lenyap dan menghilang.
Cinta yang ia rasa akan terus ia genggam kini menghilang tanpa harapan. Kisah kasih yang ia kira akan bisa ia bawa sampai mahligai indah sebuah ucapan suci tali pernikahan itu terkubur lumpur hitam pekat lekat. Seperti tak kan ada satu tangan dapat membongkarnya. Bahkan untuk saat ini mungkin kaki yang kokoh pun tak akan sanggup melintasi barang satu langkah.
Seperti tak percaya. Kenangan itu meracuni pikiran yang menggelayut riang. Ola mencoba mengusir semua kenangan pahit kala tiga tahun yang lalu. Semakin ia mencoba melupakannya, pahit kenangan itu semakin terasa. Harapan yang ternyata kini menjadi tebing yang curam baginya, membawanya kedalam keterpurukan yang melarut.
---
---
Malam itu malam yang dingin. Malam tepat dua bulan lebih dua minggu hubungan Ola dengan Rendi. Sekaligus malam dimana Rendi sudah tak lagi menginjakkan kaki di bangku Sekolah Menengah Atas. Rendi tengah Lulus. Lulus SMA sejak satu semester silam. Sedang Ola baru akan memasuki semester empat di bangku kelas sebelas.
Begitu dingin dan begitu sepi. Dan hanya mereka berdua, Ola dan Rendi, duduk di balkon rumah. Mereka larut dalam suasana malam yang kaku sekaku es di dalam sebuah freezher, semakin dingin dan kaku saat tak ada satu dari mereka membukanya. Dan 30 menit telah berlalu dalam keheningan.
"Sayang.." ucap Ola mencoba mencairkan keheningan.
"Kamu tahu kan malam ini begitu indah? Indah buat aku, buat kamu dan buat kita." tambah Ola. Berharap ada suatu kejutan dari tanggapan Rendi.
"Iya, aku tahu." tanggap Rendi hanya menjawab dengan nada hambar.
"Aku sayang Kamu.." ucap Ola sembari memberi satu kecupan hangat di sisi kanan pipi kekasih yang amat di cintainya itu. Sedikit terselip rasa kecewa di dadanya mendengar tanggapan Rendi.
"Makasih.." hanya itu kata yang keluar dari bibir Rendi sedikit kaku.
Hanya itu?? Hanya itukah ucapan yang akan kamu dengarkan padaku malam ini??
tak ada yang lainkah??
Selama 30 menit aku menunggu di sampingmu untuk kamu mengatakannya
Kecewa. Ya. Sedikit ada kekecewaan di hati Ola mendengar ucapan yang terlontar dari bibir manis Rendi kala itu. Hanya beberapa kata. Ya. Beberapa. Bahkan bukan Kalimat. Melainkan hanya kata. Kata yang harusnya syahdu di dengar. Namun itu hanya membuat hati kecil Ola merasa sakit. Sakit dan sedikit jatuh, ia mencoba tetap berdiri di samping seorang lelaki yang amat ia sayangi melebihi laki-laki lain yang sempat mampir di hatinya.
Malam kembali diam. Kali ini Ola dan Rendi berada dalam satu masalah. Mereka bingung memilih dan merangkai kata untuk memulai percakapan malam itu setelah satu percakapan telah usai. Sama-sama sibuk mencari kosa kata dan merangkainya menjadi satu kalimat yang diharap akan indah mengiang di telinga. Memutar-mutar bola mata ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah bahkan sempat membelalakkan dan memejamkannya barang satu detik dan dalam satu hela nafas.
30 menit berlalu.
"emm.. O.. Ola.." alih-alih Rendi mencoba mulai bicara, menoleh menatap kaku wajah Ola sambil berkata terbata.
"He'eh.. iyaa Sayang.." Tersentak Ola. Tak biasanya Rendi memanggilnya dengan hanya sebuah nama Ola. Ola sejenak melamun.
Dimana kata Sayang itu ?? Kata manis yang indah di dengar jika kamu yang mengucapkannya kepadaku.. Dimana nada-nada manja yang membuatku nyaman di dekatmu?? Dimana tatapan indah yang akan membawaku hanyut bersamanya?? Dimana ??
"emm.. Ola.. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." sambung Rendi tak usainya sambil terbata.
"Iya sayang katakan saja." raut wajah ola yang tampak riang, kini sedikit tertekuk muram.
"emm.. Jangan panggil aku.."
"kena.."
"sssssssssst.. aku belum selesai ngomong Ola.." potong Rendi.
"emm.. Jangan panggil aku lagi ya.. Jangan panggil lagi aku dengan kata sayang." masih terbata namun agaknya sedikit lancar. "Dan jangan cintai aku lagi..!!"
Ola masih tercengang kaku. Hatinya belum siap mendengarnya. Ia hanya membelalakkan mata dengan tatapan kosong. Pikiranya melayang entah kemana. Begitu terpekik hingga mulutnya tak sanggup untuk berkata. Tangannya hanya mengepal tanpa daya. Berkeringat namun dingin. Dan hanya telinganya yang masih sanggup mendengar kata demi kata yang terlahir dari mulut lelaki yang sejak 60 menit terakhir ini tengah duduk di sampingnya.
"Maaf Ola.." lanjut Rendi. Dan hanya itu kata yang keluar dari mulut Rendi kemudian.
Sejenak mereka kembali menyelam dalam kesunyian. Kembali sama-sama saling mencari dan merangkai kata demi kata di balik kediaman mereka.
"Kenapa??" Tanya Ola lemah. Tak bersemangat dan hanya air mata yang mampu melanjutkan pertanyaannya.
Rendi beranjak dari duduknya. Mendekap dan mencium kening Ola. Lalu kemudian ia meninggalkan Ola yang masih terdiam, sambil berbisik lembut tepat di telinga Ola,
"Kamu akan tau jawabannya kelak Ola. Selamat Tinggal."
Hanya itu kalimat terakhir Rendi sebelum ia meninggalkan ruang yang sejak 1 jam yang lalu telah mendingin.
"Kamu akan tau jawabannya kelak Ola. Selamat Tinggal."
Hanya itu kalimat terakhir Rendi sebelum ia meninggalkan ruang yang sejak 1 jam yang lalu telah mendingin.
Ola hanya terdiam. Dan masih tercengang kaku. Hatinya masih belum siap mendengarnya. Ia masih membelakkan mata dengan tatapan kosong. Pikiranya masih melayang entah kemana. Begitu terpekik hingga mulutnya masih tak sanggup untuk berkata. Tangannya masih mengepal tanpa daya. Berkeringat namun dingin.
Dan kini semakin terasa dingin ketika pertanyaan yang ia lontarkan tak kunjung terjawab.
Tuhaan..
Apa yang terjadi ??
Apa salahku ??
Apa yang diinginkan Rendi ??
Apa yang diinginkannya hingga ia membawaku dalam kesiksaan ini Ya Tuhan ??
Apa yang ia inginkan setelah selama dua taun aku mengenalnya, setelah dua bulan lebih dua minggu aku bahagia disampingnya. Dan kini hanya dengan waktu kurang dari dua jam ia menghancurkan semuanya. Harapanku, mimpiku, kebahagiaanku. Hingga yang ada kini hanyalah air mata. Ia pergi tanpa penjelasan apa-apa. Hanya pergi dan meninggalkan luka pedih di sini.
Rendi, apakah kamu baik-baik aja ?
Rendi, apakah kamu baik-baik aja ?
---
Hari ini,, Selasa 18 Desember 2012, tepat tiga tahun Ola berhasil menenteng sejuta sayat dalam hatinya yang belum lekas menghilang dan masih membekas tajam. Luka yang tertoreh dari ia masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas semester empat sampai kini ia tengah duduk di semester empat Sekolah Tinggi Ekonomi di daerah asalnya, Jogjakarta.
Tak mudah baginya menjalani alur hidupnya dengan memikul sekelumit masalah pelik. Hanya dengan kurang dari dua jam ia mendapatkan sebungkus cokelat. Manis tapi ada sedikit rasa pahit yang membekas di pangkal lidah. Indah namun berakhir buruk. Ya hari itu Minggu 18 Desember 2009. Tepat hari dimana ia harus terpaut jarak, waktu dan hati dengan Rendi. Kehilangan dan tak lagi bersamanya adalah hal yang terburuk. Setelah Ola kehilangan kedua orang tuanya pada tanggal dan bulan yang sama lima tahun silam.
18 Desember ini membuatnya enggan beraktifitas. Tidak berangkat kuliah, tidak keluar rumah, dan hanya membiarkan dering ponselnya mengalun pelan syahdu. Ada beberapa panggilan yang berhasil ia acuhkan. Dari teman kuliahnya, rekan kerja part timenya bahkan seseorang yang menyukainya. Ini menggambarkan betapa sepinya hidup yang ia jalani hanya bersama neneknya yang tengah menua itu. Benar-benar tak ingin beranjak. Banyak kenangan pedih yang ia rasa di tanggal itu. Hingga ia tak ingin membiarkan sebuah pisau menggoreskan satu kenangan pahit kembali. Tak ingin mencabut bunga yang indah dari tanah, yang meninggalkan akar dalam tanah tempat bunga itu berpijak. Karena akar-akar itu hanya akan membusuk di dalamnya. Seperti luka yang membusuk dalam hati ola. Membusuk, menyayat dan membekas.
Hari ini ia hanya ingin pergi bertemu dengan dua orang yang membuat ia ada di dunia ini.
Hari ini ia hanya ingin mengunjungi pusara Ayah dan Ibundanya. Ini adalah obat yang manjur untuk mengisi detik demi detik dalam waktu sunyinya sembari meneteskan butiran bening dari kedua kelopak matanya. Mengumpat dan mencurah di sana. Membasahi pipi cubbynya di antara batu nisan yang tergores nama Ayah dan Ibundanya.
Air matanya terus saja menderas bak air sungai menghampiri hilirnya. Tiga puluh menit sudah ia menguras air matanya sampai ia tak lagi menghiraukan ada suara langkah tak beraturan dari sepatu panthouple yang menginjak rerumputan hijau di semilir sepi sore itu. Ola tetap duduk membungkuk tak berbalik badan, ia hanya sibuk dengan tangisnya dan peluh di matanya.
"Ola.." suara lelaki memanggilnya pelan dan penuh kesalahan membawa bucket bunga indah berwarna ungu.
Suara ituu... Ya Tuhan.. Suara itu..
Suara indah nan lembut, suara yang pernah membuat aku nyaman.
Ahh ituu... RENDII..
Ola membalikkan badannya. Ya itu Rendi. Ia hanya berdiri lemas tanpa bisa melangkahkan kakinya. Ia tak marah. Hanya ia tak percaya Rendi ada disini. Di hadapannya. Nyata. Matanya tajam memandang sesosok lelaki yang menoreh suka duka tiga tahun silam. Ola semakin larut dalam tangisnya. Memuntahkan semua butir bening dalam kelopak matanya yang kian membengkak.
Rendi perlahan mencoba menghampiri Ola. Ola masih terdiam tak beranjak. Tidak menghampiri Rendi pun tidak menghindarinya. Hatinya masih syok menyaksikan kepergian dan kedatangan Rendi yang secara tiba-tiba pada tanggal dan bulan yang sama, 18 Desember. Ada sedikit rasa yang aneh menyelinap. Ola bingung harus senang atau sedih, yang pasti bukan marah. Ia takkan pernah bisa marah pada orang yang di sayanginya. Bahkan pada orang yang pernah mengecewakannya. Orang yang membekalinya luka perih untuk disertakan dalam hidupnya tiga tahun ini.
Langkah Rendi semakin dekat dengan Ola. Satu keinginan Rendi saat itu lekas berada dihadapan Ola dan memeluknya. Tapi keinginan itu tak kuasa di dapatnya. Seperti ada batu menjulang tinggi dihadapan antara Rendi dan Ola, sulit bagi Rendi menghampiri Ola saat itu dengan kaki yang sudah tak sempurna seperti dulu lagi. Langkahnya kini tak beraturan, tak lagi seirama. Itu mengapa Rendi menjauh dari Ola selama tiga tahun ini. Rendi mencoba menarik tubuh Ola untuk sampai dalam dekapannya.
"Bodoh !!" Teriak Ola sambil menangis syahdu.
"Maaf.." hanya itu kata yang keluar dari mulut manis Rendi. Keduanya menangis dalam pelukan.
Ola menatap kaki Rendi.
"Jadi ini.. Ini yang membuat kamu ninggalin aku ?? kamu takut aku nggak sayang lagi sama kamu, nggak
"Jadi ini.. Ini yang membuat kamu ninggalin aku ?? kamu takut aku nggak sayang lagi sama kamu, nggak
cinta lagi sama kamu cuma karna kamu kaya gini ??" Ucap Ola lirih bermakna. Seolah ia telah tahu alasan mengapa Rendi sengaja menyudahi hubungan dengannya dan meninggalkannya.
"Penyakit ini yang menggerogoti kakiku sampai harus di amputasi dan terpaksa memakai kaki palsu ini. Aku nggak yakin bisa mendampingi dan menjagamu dengan keadaanku yang seperti ini. Tumor itu merambat semakin ganas di kakiku." Ucap Rendi mencoba menjelaskan.
"Saat itu aku sudah sering Kemotherapy" Lanjutnya.
"Aku hanya sibuk dengan penyakitku dan aku bahkan tak memiliki waktu untukmu." Rendi menunduk lemas.
"Kini dokter memfonis tumor itu sudah lenyap. Itu mengapa aku berani menampakkan diri di hadapanmu Ola. Tapi kemungkinan masih ada benih tumor dalam tubuhku. Di bagian mana pun aku tak tau. Aku tak bersemangat Ola. Aku tak bersemangat melebihi apapun." Jelas Rendi sambil menangis bersimpuh dihadapan Ola dengan kaki palsunya. Ola ikut bersimpuh dan memeluk Rendi erat.
"Saat itu aku sudah sering Kemotherapy" Lanjutnya.
"Aku hanya sibuk dengan penyakitku dan aku bahkan tak memiliki waktu untukmu." Rendi menunduk lemas.
"Kini dokter memfonis tumor itu sudah lenyap. Itu mengapa aku berani menampakkan diri di hadapanmu Ola. Tapi kemungkinan masih ada benih tumor dalam tubuhku. Di bagian mana pun aku tak tau. Aku tak bersemangat Ola. Aku tak bersemangat melebihi apapun." Jelas Rendi sambil menangis bersimpuh dihadapan Ola dengan kaki palsunya. Ola ikut bersimpuh dan memeluk Rendi erat.
"Udah Ren. Aku ngerti. Aku tetep sayang kamu. Aku maaaaaaaasih sayang kamu seperti dulu. Aku cint.." Tiba-tiba ucapannya terhenti.
Rendi melepaskan pelukan Ola. Ia berpaling memutarkan badannya sembari berkata "Nggak Ol. Kamu nggak boleh mencintai aku lagi. Aku tak mau ada satu orang pun sedih karena aku. Apalagi kamu Ol. Aku nggak mauu. Dan jangan kasihani aku."
Rendi melepaskan pelukan Ola. Ia berpaling memutarkan badannya sembari berkata "Nggak Ol. Kamu nggak boleh mencintai aku lagi. Aku tak mau ada satu orang pun sedih karena aku. Apalagi kamu Ol. Aku nggak mauu. Dan jangan kasihani aku."
"Terus buat apa kamu datang ke sini menemui aku?"
"Kangen.. Aku kangen sama kamu Ola. Aku hanya ingin melihat wajah orang yang aku cintai yang aku tinggalkan tiga taun silam. Aku ingin minta maaf. Aku tak ingin meninggalkan beban jika aku tiada nanti. A.."
"Ssssssssstt.." potong Ola menenangkan. "Kamu akan hidup lama Ren. Bahkan mungkin bisa lebih lama dari aku. Jangan pernah katakan itu lagi."
"Dan meski kamu melarang aku untuk mencintaimu aku akan tetap menunggu untukmu. Seperti aku menunggumu selama tiga taun lalu. Aku akan disampingmu jika kamu mau."
"Aakuu saayaang kaamuu." Bisiknya.
"Aakuu saayaang kaamuu." Bisiknya.
Rendi hanya diam. Tak berkata apa-apa. Namun tak munafik bahwa dia ingin selalu bersama Ola. Mulai detik ini. Menjalani lima bulan sisa hidupnya dengan orang terkasihnya, Ola.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar