Jumat, 19 Oktober 2012

Hakikat Cinta, Syifa dan Rega

Awalnya begitu asing. Tempat ini, kampus pertamaku dan kuharap bukan yang terakhir untukku melnanjutkan S2 ku kelak, kampus UNTAG ( Universitas 17 Agustus ), Samarinda, tempat menimba ilmuku tahun ini dan empat tahun kedepan, tempat dimana pertama kali aku memijakkan kakiku setelah kurang lebih dua tahun tak lagi mengecam pendidikan.

Ahhh, betapa senangnya aku. Aku, sebut saja Embem, tahun ini aku berhasil mencapai salah satu keinginanku, "KULIAH". Sebenarnya keinginan untuk kuliah tak mungkin ada kalau saja ayahku tak pernah mengucapkan janji itu.

Janji ayah delapan tahun yang lalu.

Ayah : "naah mbak tika kan udah lulus tuh S1 ekonominya, nanti kalo uda lulus SMA, Embem kuliah ya !!! Nanti ayah kuliahin di Politeknik Balikpapan aja. Ambil perawat kalo nggak bidan. Nanti tinggalnya nggak usah kos, kalo kos nanti kamu klayaban lagi.. Biar di asrama aja. Oke ?? "

Mbak tika itu, kakak sepupu dari pakdeku. Aku yang kala itu masih ingusan belum ngerti apa-apa, cuma bisa mengangguk dan menggelengkan kepala, dan sekali-kali bibir agak manyun tanda sedikit keberatan sama instruksi yang ayah berikan. Terang aja nggak mudeng, aku aja masih umur 12 tahun, lulus Sekolah Dasar aja belum.

Masih tak percaya. Setelah dua tahun aku menunggu, akhirnya ada juga saat aku bisa kuliah sendiri dengan biaya dari keringat sendiri. Puas rasanya. Jadi ingat saat ayah sakit keras waktu itu. Tepatnya ketika aku hendak Ujian Nasional di SMA.

Aku yang sedang semangat hendak melanjutkan pendidikanku ke jenjang Perguruan Tinggi sesuai wewanti ayah seusai lulus SMA nanti tiba-tiba down begitu melihat kenyataan pait yang menimpa Ayah. Ayah sakit parah.

Melihat gejalanya yang agak ganjil aku tak yakin ayah akan bertahan lama ( na'udzubillah, jangan sampai ).
Awalnya tubuh ayah memang panas seperti gejala masuk angin biasa, lama-lama ayah jadi seperti orang linglung. Matanya nggak pernah mau ia buka. Sepanjang hari hanya tidur. Tanpa ada percakapan. Ia tak mengenali orang-orang di sekitarnya. Tak mengenali siapa aku, siapa adikku, siapa kakakku, bahkan ibuku pun tak dikenalinya apalagi orang-orang di sekitar yang menjenguknya.

Hari ini hanya ada aku yang menunggui ayah di rumah. Kenapa di rumah? Kenapa nggak di rujuk ke RS aja?. Ya, itu yang menjadi pertanyaanku. Mungkin dengan gejalanya yang sedikit tidak wajar yang memustahilkan ayah di rujuk ke RS, atau mungkin pula ada alasan lain.
Hanya ada aku, ya aku. Sepulang sekolah aku lihat-lihat ke sudut-sudut rumah, yang kutemukan hanya ayah yang masih terbaring lemas di kamarnya. Seusai sholat dan merapikan baju gantiku, aku bergegas ke kamar menemani ayah. Aku hanya bingung, harus gimana ?

Beberapa saat aku hanya diam, beberapa saat kemudian aku mencoba memijat-mijat kaki ayah dan kadang menawarinya makan atau minum. Tapi ayah hanya diam dan diam dalam tidurnya.
Sampai tiba waktu sholat Ashar. Aku mencoba membangunkan ayah setelah Asharku usai.

Aku : "Yahh.."
Ayah : "Hemm.."
Aku : "Ayah bangun yaaa !! Sholat Ashar dulu !!"
Ayah : "Hemm.."

"ayaaaaahh"
Sontak aku kaget. Dalam hati aku menjerit. Nama ayah yang keluar.

"Ya Allah. Ayaah.. kenapa ayah Ya Allah?"

Hatiku Sakit. Sakit sekali. Selama ini ayah jarang diingatkan untuk mengerjakan sholat, bahkan tak pernah, biasanya ia yang mengingat kami untuk sholat.

Aku tidak menyerah. Aku mengulanginya sekali lagi.

Aku : "Ayaaah.. Sholat duluu yaa.. Udah masuk Ashar ni.."
Ayah : "Hemm.."

"Hemm.." Itu lagi suara yang muncul. Kucoba dan kucoba lagi berulang-ulang. Tapi tetap pada hasil yang sama. GAGAL.
Sampai akhirnya aku menyerah juga.

Jam dinding menunjukkan pukul 17.25 WIB.  Pertanda waktu untuk sholat Ashar hampir usai.

Ibu pulang. Di tangannya menggenggam beberapa tumbuhan yang bisa dijadikan obat untuk ayah. Aku yang semula berada di dapur, bergegas menuju tempat ibu berjalan.

"Ibuu..."

Aku memeluknya erat.

Terdengar isakan ibu. Oh Tuhan.. Maafkan aku malah membuat ibu menangis hari ini.
Ibu mengerti maksud pelukanku yang secara tiba-tiba.

"Ayah nggak mau disuruh sholat lagi.."

Lagi ?? Ya.. itu bukan pertama kalinya, tapi sudah berkali-kali sejak awal tubuh ayah mulai panas. Pikiran ayah tak pernah fokus. Bahkan bicarapun ngelantur.

Ibu tak pernah menyerah. Ibu mencoba membangunkan ayah. Mengingatkannya untuk sholat. Memapah ayah untuk berjalan mengambil air wudhu. Mengarahkan ayah berwudhu dengan benar, ayah lupa tata cara wudhu. Dan sembari mengucurkan butir bening di pelupuknya, ibu menunggu di balik punggung ayah sampai ayah menyelesaikan rokaat demi rokaat dalam sholatnya, bahkan ayah lupa tertib sholatnya. Miris melihatnya. Ibu melakukannya setiap hari. Dengan ikhlas. Walau ada tangis di sana. Ia tetap mencoba tegar. Ia tetap setia di samping, di depan dan di belakang ayah kala itu. Sampai ayah sembuh.

***

Ah.. mengingatnya sungguh menyakitkan.
Waktu itu keuangan keluargaku sangat kritis. Ayah yang harus menjadi tulang punggung kami satu-satunya harus terbaring lemah.

Kedua kakakku yang berpenghasilan tak seberapa tidak memungkinkan untuk membantu keuangan kami, membantupun mungkin hanya sebisanya. Mereka mengais rizki di Ibukota. Gajinya perbulan yang tidak seberapa mungkin hanya cukup untuk biaya hidup di sana, dan mungkin sisanya di tabung untuk masa depannya.

Kakakku yang terakhir pun demikian. Dalam keadaannya yang sedang mengemban kuliah tidak mungkin berhenti kuliah begitu saja hanya untuk bekerja. Beasiswanya yang hanya kurang satu tahun akan sirna jika ia ambil cuti. Maka ibu menyarankan untuk agar kakak tetap melanjutkan kuliahnya.

Adikku yang masih SMP hanya bisa ikut menangis dan meratapi tanpa harus bisa melakukan apa-apa.

Sedangkan aku, aku hanya bingung. Aku hanya berdoa. Aku yang sedang menjalani Ujian Sekolah saat itu menjadi lemah dan rapuh. Buyar. Buyar semuanya. Pelajaran sekolah yang aku pelajari selama tiga tahun lamanya sia-sia sudah.

***

Hari ini Ujian Nasional berlangsung. Syukurlah kondisi ayah berangsur membaik. Tapi kondisi fisiknya masih sama. Masih lemas tanpa daya. Kondisinya yang terdiaknosa terkena komplikasi membuatnya berpikir keras, hingga membuat kondisi tubuhnya tak semakin membaik. Malah semakin parah. Mual-mual, pusing, dan lain-lainnya, banyak yang ayah rasakan.

Seenggaknya aku bisa sedikit tenang menghadapi Ujian Nasional dan Ujian hidup ini.

"Aku perhatiin akhir-akhir ini keadaanmu kurang baik, Mbem.. Ada masalah? Kayaknya kamu sengaja menutupinya dariku ya?" Tanya Iner saat melihatku yang memang saat itu dalam keadaan kusut, sangat kusut.

Iner. Ia teman satu bangku sekaligus sahabat terbaikku. Ia sangat baik. Sangat perhatian. Sangat layak aku sebut dan aku anggap sebagai "SAHABAT". Masalah yang bejibun yang juga menimbrung hidupnya tak kian membuatnya egois. Dia tetap ada untukku. Kata-katanya yang mendamaikan selalu ia ucapkan saat aku ada masalah. Hidup di tengah keluarga yang broken home tak pula membuatnya lemah. Ia selalu tegar. Lebih tegar dari aku yang hidup di tengah keluarga yang utuh. Kita selalu melengkapi. Sebut saja Soulmate.

Dulunya kami satu SMP. Dulu kami saling kenal tapi tak seakrab sekarang. Bahkan waktu SMP kami sempat satu kelas di kelas IX. Tapi Tuhan baru mempertemukan kami dalam ikatan sahabat saat kami sama-sama masuk SMK favorit di Samarinda. Saat itu awalnya memang tak ada keakraban di antara kami. Tapi keakraban itu tumbuh dan tumbuh sejalan dengan berjalannya jarum jam dalam detiknya.

Tak dapat dipungkiri aku pun tak sanggup menyimpan dan menutupi beban berat yang kini ada di pundakku.

"Iyaa.." aku hanya bisa mengangguk lirih dan menahan isakku yang terasa sangat berat.

"Coba deh cerita! Aku di sini untuk nemenin kamu. Untuk membantu kamu. Untuk kamu jadikan tempat curahin semua beban kamu. Begitu sebaliknya." Bujuknya seolah dia pun demikian saat ada masalah. Ia berkata bohong. Ia tak pernah bercerita tentang keadaannya. Tentang masalahnya. Dia hanya berpura-pura tegar di depanku.

"Ayah Ir.. hk..hk..hk.." Ucapku sesenggukan. Tak kuasa membendung air mata yang akhirnya meleleh juga.
"Ayah sakit. Sakit parah. Ya Allah.." Aku tak mampu melanjutkan kata-kataku. Semua tenggelam dalam lautan butir-butir air mata.

"Sakit? Sakit apa? Kapan? Kok kamu baru cerita?"

"Beberapa bulan yang lalu.. hu..hu..hu". Tangisku semakin menjadi.

Lalu aku melanjutkan ceritaku. Semua aku ceritakan pada Iner. Semuanya. Tanpa terkecuali. Ia selalu mencoba ada untukku.

Di akhir kelas XII ku, aku bimbang. Sesang Iner setelah lulus langsung menikah dengan Kak Anton, kekasihnya sejak mereka kelas VII SMP dulu. Iner tak ada cita-cita untuk kuliah, padahal semua nilai-nilainya melebihi nilaiku.

Aku lulus dengan nilai pas-pasan. Tak mungkin bisa berkutik. Mencari beasiswa pun tak mungkin.

Dengan keadaan ekonomi keluarga yang tidak menjajikan, aku urungkan niatku untuk melanjutkan studiku ke Perguruan tinggi.

***

"Mbem.. !!"
Suara Rega membuyarkan semua lamunanku.

"Eh.. kamu.. ngagetin aku aja sih kerjaannya.." Jawabku pura-pura kesal.

"Kamu juga sih.. Ngelamun aja kerjaannya.." Ledek Rega.

"Ihh.. Apaan sih.. Suka-suka dong.." Ucapku mencoba membela diri.

"Ebuseeett... ketus amat sih.. noh jrawat nongol noh di idung.." Goda Rega. Ia tertawa cekikikan dan diam-diam berlalu pergi meninggalkanku yang sejak tadi duduk di taman kampus.

"Haahh ?? Masaa sih, Ga..?" Sontak aku kaget. Aku paling benci sama yang namanya jerawat. Tanganku menggelataki seluruh isi tas. Kali aja nemu cermin.


Nah, akhirnya nemu juga ni cermin. Batinku.


"REGAAAAAAAAAAAAAA!!!!!" Aku berteriak seketika. Pagi ini, seperti pagi-pagi biasanya Rega selalu berhasil menjailiku.

Kucoba menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang selalu buat hidupku ramai dengan kekonyolannya itu.

"Awas aja ya.. Monyet satu ituu.. Tunggu pembalasanku.." Komat kamit mulutku bak seorang dukun membaca mantera untuk pasiennya.

***

"Aaahh... Akhirnya kelar juga kuliahku hari ini.. Pengen kemana yaa.." ujarku lirih. Mencoba berbicara pada diri sendiri.

Kebetulan kerja part timeku di Apotek hari ini libur. Biasanya aku pergi ke perpustakaan daerah bersama Rega. Tapi hari ini aku masih kesal dengan ulah Rega, tepatnya sedang nggak pengin pergi sama Rega. Aku biasa menghabiskan waktu-waktu kosongku bersama Rega. Nonton film, goes-goes, shopping, makan atau sekedar jalan-jalan. Berangkat kerja, pulang kerja, berangkat kuliah, pulang kuliah, menghabiskan week end. Aah semuanya yang kulakukan tak ada yang tanpa Rega. Semua yang kulakukan pasti ada Rega. Sejak dua tahun yang lalu.

Rega satu tahun lebih tua dariku. Ia bekerja tepat di samping apotek tempatku bekerja. Ada warnet Online plus Cafe di sana, nah di situlah tempat Rega bekerja. Kawasan tempat kami bekerja namanya kawasan Om Haji. Nama kawasan ini agak unik. Sempat aku bertanya-tanya kok kawasan Om Haji ?

"Iya. Tempat ini di beri nama kawasan Om Haji karena yang punya kawasan ruko-ruko di sini adalah Om Seno. Umurnya baru 30 tahun tapi udah Haji. Jadi kita-kita yang kerja di kawasan ini manggil dia Om Haji. Nikah juga belon. Udah sukses pula. Bla bla bla.." Jelas Rega ketika aku bertanya-tanya ini itu satu tahun yang lalu.

"Nah kamu liat dari ujung Blok A sana sampai Blok D sini, ini semua punya Om Haji. Begitu Embem.. Luas kan?" Lanjutnya.

Masih ingat juga pas dulu aku masih cupu banget. Pernah kerja aja belum. Masih clingukan belum tahu apa-apa. Kaku banget. Kebetulan teman kerjaku lebih tua dariku. Umurnya jauh dari umurku yang kala itu baru berjalan 18 tahun. Mbak Meilva, wanita karrier, Apoteker. Umurnya 30 tahun. Baru menikah saat aku baru 6 bulan bekerja di sana. Tapi sekarang ia tengah dikaruniai anak, cewek, Meida namanya. Kenapa Meida, karena Meida adalah singkatan dari nama Mbak Meilva dan Mas Dani suaminya. Aku dan Rega biasa memanggilnya "Meyil". Meyil cantik dan lucu. Ia sering di bawa ke apotek. Aku sering nggendong, sering aku ajak bermain dan bercanda bersama Rega. Ah bahagianya hidupku ini.

Mbak Melva sangat dewasa. Baru beberapa bulan kami bekerja bersama, tapi keakraban di antara kami sudah layaknya kakak beradik. Dia cakap dalam memilah obat. Aku salut. Dia menjaga sekali kebersihan. Maklum saja dia adalah apoteker.
Pembagian Shift yang begitu rumit karena menyesuaikan jadwal kuliahku pun tak jadi beban baginya. Justru ia sangat mendukungku untuk terus menggapai cita-cita.

***

"Wooy!!"
Lagi dan lagi. Selalu ada Rega, Rega dan Rega. Selalu membuyarkan lamunanku.

"Heloooo... Kapan sih ya nggak pake acara ngaget-ngagetin muluuu..!!" Ucapku. Masih pura-pura ngambek.

"Iyaa.. iyaa.. sorii sorii..." Rega mencoba meminta maaf.
"Jiaaaaahh... Ngambek nih ceritanya? Tadi pagi itu kan becanda, Mbem.. Kaya nggak tau aku aja sih.." Lanjutnya.

"Alesan!!" Ucapku pura-pura agak ketus.

"Ah nggak asyik ah kamu, Mbem!!" Ucap Rega sambil mencubit pipiku yang emang dasarnya embem.

"Apaan sih.. Tambah embem niih pipiku!!"

"Senyum duluuu dooonk!!" Bujuk Rega.

"Hmmmm..." senyumku agak terpaksa. Takut kalo-kalo senyum lebar ketawaku keluar. Jaim dong. Pasalnya dari tadi aku emang pengin ketawa. Walo masih agak sebel juga sih sama keisengan Rega.

"Naaah gitu dooonk! Kan imutnya keliatan tuh.."

"Apaan sih" Aku yang kegeeran membuat Rega tertawa.

"Hahahhahahha... Yang imut kang gingsulmu Mbem... nggak perlu tersipu gitu dong..!"

"Regaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Sambil mencubit perut rega yang padat.

Sesaat aku kembali melamun.

Dua tahun lamanya selalu bersama dan saling mengerti. Itulah kami. Selama itu pula status kami hanya teman, nggak lebih. Dan lebih pun mentok cuma sampai sahabat.
Aku tak bisa membohongi diri sendiri. Aku sayang Rega. Sangat sayang, bahkan cinta.
Aku sempat ingin jujur pada Rega. Tapi aku tak ingin keakraban kami sirna oleh itu semua. Aku lebih memilih diam di sini. Melihat dan bisa bersama-sama setiap hari saja sudah lebih dari cukup.

Aku sempat berfikir, apa sudah ada cewek di hati Rega? Ah ternyata belum. Dia lebih enjoy tidak pacaran. Ia pernah bercerita bahwa dalam tradisi keluarganya yang Islamic abis, tidak ada istilah pacaran sebelum menikah, yang ada pacaran sesudah menikah.

Rega memang tak pernah dekat dengan cewek manapun. Kecuali aku. Hubungan pertemanan kami pun sangat terbatas. Guarauan kami tak pernah melampaui batas. Tapi kami tetap menjaga keakraban kami. Itu yang membuat aku enjoy dan nyaman di dekat Rega.

Awal pertama melihat aku mengenakan Hijab, Rega meresponnya dengan baik.

"Kamu keliatan lebih dewasa, Mbem. Aku suka."

Waaahh.. Waktu itu aku hanya tersipu malu. Dia berkata tanpa becanda. Dia serius dan dia mengatakan suka. Terimakasih Ya Allah, batinku. Tapi bukan semata-mata aku berhijab untuk Rega ya! Aku berhijab lillahita'ala karena Allah.

Sesaat kemudian..

"Heloooo... Kapan sih ya nggak ada acara pake ngelamun segala..?" Ucap Rega. Mengikuti nada bicaraku.

"Hehe" Aku hanya nyengir. Seolah lupa dengan kesalku.

"Kemana nih? masih jam segini pulang juga percuma. Sendiri di kost."
Maklum saja Rega anak kost. Dia asli Jakarta. Jadi nggak leluasa deh ngomong pake bahasa daerah kalo lagi bicara dengannya.

"Tentuin sambil jalan deh.." Akhirnya aku nyerah. Tetap pergi deh berdua sama Rega. Kesalpun hilang.

Rega bergegas mengambil motornya di parkiran. Aku mengikuti di belakangnya dan ngebonceng motor Rega.

"Udah siap?" tanya rega.

"Siaapp" ucapku mantap

Weeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrr...  Suara motornya yang khas mulai membisingi jalan.

Tepat seusai lulus SMA, Rega harus pindah ke Samarinda untuk melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi dan berpisah dengan orangtuanya. Orangtua Rega sudah disibukkan dengan anak-anak Panti Asuhan. Ayahnya pimpinan sekaligus pemilik salah satu Panti Asuhan di kota Metropolitan sana.

Tahun ini semester tujuhnya di Fakultas Teknik. Kecerdasannya membuatnya loncat semester. Harusnya Reda baru semester lima tahun ini.

Berada di Universitas yang sama bukanlah menjadi kebetulan buat kami. Melainkan aku yang memang sengaja masuk ke UNTAG saat tahu Rega juga kuliah di sini. Bedanya aku baru semester satu di Fakultas Ekonomi.

Jadwal kuliah kami cenderung hampir sama. Makannya jadwal kerja part time pun sepakat dibuat sama. Libur dan soal Shiftnya pun sama. Cuma kadang Rega sampai larut malam bahkan pagi ketika kejatah Shift malam. Maklum Warnetnya full buka 24 jam. Sedang apotekku mentok sampai jam 08.00 malam. Saat-saat seperti inilah yang kadang membuatku kesal. Karena harus pulang sendiri.

Rega selalu meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemput aku. Aku tak pernah memintanya. Rega yang mungkin sengaja menawariku. Mungkin pula karena aktifitas kami yang hampir selalu sama dan bersama-sama. Kecuali saat-saat di rumah masing-masing.

***

Rega memarkir motor maticnya tepat di balik gerbang sebuah masjid tua di Samarinda. Bangunan Masjid itu masih tetap kokoh meski sudah lama. Ketika malam kami bisa melihat banyak bintang menyala di masjid itu, yang aku maksud bintang adalah lampu-lampu yang berpijar di setiap sudut atas dinding masjid. Dari kejauhan serambi marmernya yang begitu luas akan terlihat seperti genangan air karena memantulkan cahaya-cahaya lampu. Dan masjid itu akan terlihat seperti di tengah-tengah air yang luas.

Masjid ini adalah Masjid langganan kami. Tak pernah lupa kami mampir di Masjid ini untuk sekedar menghadap Sang Khalik.

Usai sholat, biasanya kami makan di kantin yang letaknya tepat di samping kanan Masjid. Di kantin ini menunya spesial dan terjangkau. Harganya harga musafir. Pedagangnya ramah. Bu Leh namanya. Mereka hafal dengan menu kami. Telur dadar kecap plus nasi dan minumnya cukup air putih. Simple, sederhana dan enak, bergizi pula.

"Alhamdulillah, kenyang.." Porsi makan Rega cukup sedikit. Dia nggak suka makan terlalu kekenyangan. Rega sering mengingatkan aku saat hendak makan, begini "Mbem.. kalo makan, makanlah sesudah lapar dan berhentilah sebelum kenyang. oke?" dan kali ini pun demikian. Biasanya aku hanya mengiyakan layaknya seorang adik yang dinasehati kakanya.

"Makasih ya bu Leh.. Kami pulang.. Besok lagii.." Ucapku. Itu kalimat andalanku saat hendak meninggalkan kantin. Sudah tak asing lagi mungkin di telinga Bu Leh, Rega dan langganan kantin lainnya.

"Kemana nih..?" Rega kembali bertanya sambil mengenakan helm Angry Birdnya.

"Pulang aja deh.." Ucapku.

"Yakin? masih jam 13.00 lo ini.." Ucap Rega.

"Ada tugas ni. Makul Bisnisku lupa belum dikerjain." jelasku.

"Oke. Tapi aku nggak mampir ya. Besok aja pas berangkat aku jemput lagi."

"Siaaap." Jawabku.

***

Pagi yang cerah. Kamis ini aku nggak sarapan. Rega biasa mengajariku untuk puasa sunah Senin-Kamis sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW. Pagi ini jadwalku bekerja, begitu pula Rega. Aku duduk di ruang tamu. Itu biasa kulakukan saat menunggu Rega datang menjemput.

Dari dalam aku melihat ayah sedang membaca koran hariannya di teras rumah. Semburat garis di keningnya menampakkan betapa lelahnya ia. Rambutnya mulai memutih dan giginya mulai tanggal satu persatu manandakan ia tengah menua. Ayah sudah pensiun dari Pegawai Negerinya, tepat satu tahun yang lalu. Kini ia tak memiliki penghasilan. Untuk biaya hidup setelah pensiun dan biaya sekolah adik ayah mengandalkan asuransi dan uang pensiun perbulannya. Semua tabungannya sudah ludes untuk biaya berobat dan biaya hidup saat ia jatuh sakit dulu.

Dari belakang ibu melewatiku sambil tersenyum padaku. Ia menghampiri ayah sambil membawakan secangkir kopi pagi untuk ayah. Lalu duduk menemani ayah. Entah apa yang mereka bicarakan. Sepertinya bahagia. Ku harap selalu demikian.

Peepppp.. Peepppp.. Peeppp...


Suara khas klakson motor Rega terdengar. Aku segera keluar setelah agak lama menunggu. Hari ini Rega sedikit terlambat. Aku menghampiri ayah dan ibu. Pamit dan mencium punggung tangan kanan mereka satu persatu. Lalu aku berlari kecil menghampiri Rega.

Wahh pagi ini Rega terlihat tampan dengan kemeja hijaunya.

"Yaah.. Buu... Pagii..." sapa Rega kepada ayah dan ibu sambil melempar senyum termanisnya.

"Pagii... tumben agak telat.." tanya ayah.

"iya nih yah.. tadi ban kempes.. tambah angin dulu.." jawab rega sekenanya.

"Jangan lupa Embem suruh bayarin bensinnya tuh.. Numpang muluuu..." sahut ibu menggodaku.

"Yeeee... ibu.. biasanya juga gitu.." Ucapku membela diri.

Rega hanya tersenyum kecil.
Tanpa basa basi aku langsung menaiki motor Rega.

"Siapp?" seperti biasa dia selalu mengatakan itu saat hendak melajukan motornya.

"Okee siap"

Weeeeeeeeeeerrrrrr.... motor Rega mulai melaju.

"Reggaaaaaaa.... rega.. rega.." ucapku tiba-tiba mengagetkan Rega.

Rega mendadak menghentikan motornya. "Ada apa Mbem?" tanya Rega sambil berbalik menoleh ke arahku.

"Helm.. Helm.. Lupa.. Hehe" ucapku sambil memutarkan telunjukku mengisayaratkan kami harus putar balik ke rumah.

"Aaah.. kamu ini.." Rega menggerutu sambil memutar arah motornya.

Masih tampak ayah dan ibu di teras. Sepertinya pembicaraan mereka asyik sekali. Dan tampaknya kedatanganku mengusik asyiknya perbincangan mereka pagi ini.

"Lho.. balik lagi?" tanya ibu.

"HELM BUUU... KETINGGALAN.." teriakku sambil nyelonong ke dalam rumah.

"Ah anak ayah satu ini pelupanya minta ampun ya.. Ya nggak Ga?" ledek ayah. Rega pun mengangguk dan tersenyum tanda setuju dengan ledekan Ayah.

"Ah ayaaaaaah..." ucapku sambil berlalu.
"Embem berangkat dulu yaaa Yaaah.. Buu.. Dada.. Assalamu'alaikum.." lanjutku. Begitulah aku. Ramai orangnya.

"Wa'alaikum salam" jawab ayah dan ibu hampir bersamaan.

Peeeepppp...
Klakson sengaja Rega bunyikan kepada bapak dan ibu tanda pamit berangkat lagi. Kami berlalu.

***

"Jam 12.00 niiih.. Istirahat ya Mbak Meilv.. Meyil biar sama aku.." ucapku pada Mbak Meilva yang sedang sibuk antara kerjaan dan buah hatinya.

"Lho kamu nggak makan to?" tanyanya.

"Nggak Mbak.. Kan Kamis.." jawabku singkat.

"Tapi sholat dongg?" tanyanya mencoba mengingatkan.

"Hehe.. Iya.. Lupa.." jawabku sambil meringis malu.

Aku berlalu dan mengambil air wudhu.

"Eh ada Meyil.. ikut kakak ya sini.." samar-samar terdengar suara Rega. Membuat sholatku tidak khusyuk.
"Aku bawa ke net ya, Mbak, Meyilnya.." lanjutnya.

Usai sholat.

"Udak Mbem?" tanya Mbak Meilva.

"Udah Mbak.. Meyil mana??" tanyaku.

"Itu sama Rega.. mumpung Meilda sama Rega kamu bantu lanjutin rekapan Mbak dulu ya.. Gantian Mbak yang sholat.."

"Oke Mbak"

Sudah dua tahun lebih lamanya aku bekerja bersama Mbak Meilva di sini. Jadi, walau tugasku berbeda dengan tugas Mbak Meilva, sedikit banyak aku tau cara bantuin tugas Mbak Meilva. So, nggak sungkan-sungkan juga bantuin tugas Mbak Meilva yang sedikit agak rumit walau perlu memeras otak itu. Itu sangat menyenangkan.

"Mbak udah selesai nih.. Gimana? Udah selesai kamu?" tanya Mbak Meilva.

"Dikit lagi, Mbak. Tinggal halaman ini selesai." jawabku.

"Udah sini Mbak lanjutin sendiri. Kamu bantuin Rega aja gih bopong Meildanya. Kasian kan Rega harus layanin user-usernya juga..!" ucap Mbak Meilva tanpa ragu-ragu.

"Okedeh.." tanpa berberat hati aku menuruti semua perkataan Mbak Meilva. Dua tahun bersama membuat aku dan Mbak Meilva saling mengerti san saling membantu, baik urusan pribadi seperti bopong Meyil atau urusan yang lainnya.

Suuuuuuuuuuuuuuuuuurrrr....


"Jiaaaaahh.. kasian kena ompol deeeh... hahhaa.."


Meyil ngompol, tepat di tengah celana yang dikenakan Rega. Alhasil celana Rega basah kuyub oleh ompol Meyil.

"Haiiiiiisshhh... Pantesan anget-anget tu apa.. Eee ternyata Meyil ngompol.." ujar Rega sambil nyengir risih.
"Heh temen lagi kena musibah malah seenaknya ketawa.. Bantuin dooong.. Mana nggak bawa ganti lagi.. Harus ke kampus pula.. Haaaaahhhh !!" lanjutnya.

Yah.. Memang nasib malang Rega. Aku membawa Meyil kembali ke Apotek.

***

Aku berjalan di belakang Rega sambil setengah tertawa.

"Apa kamu? Ketawa-ketawa?" Protes Rega.

"Abiiis.. Ada ya pergi ke kampus pake sarung?? Hahahha..." kali ini aku tak sanggup menahan tawaku.

"Yaaa... mau gimana lagi... Meyil sii ngompol sembarangan.." Ucapnya mencoba menyangkal.

"Udah deh udah.." ucapku mencoba mengakhiri tawaku.
"Makul terakhir selesai jam berapa kamu, Ga??" lanjutku

"Makul hari ini cuma satu, menunggumu sampai semua makulmu hari ini selesai." Goda Rega.

"Ah apaan sih, norak banget tau nggak?"

"Emang bener.. Meski Minggu Tenang baru mulai Senin besok, tapi fakultasku hari ini udah mulai tenang dooong." ujarnya.

"Ah, yang bener aja kamu !! Trus ngapain dong kamu ke kampus? Pake sarung gitu pula."

"Nganterin kamu dooong." masih tetap becanda.

"Awasss yaa... sekali lagi gitu perutmu siap-siap aja gosong!"

"Nggak lahhh.. ada informasi soal jadwal Ujian Semester."

"Ooooo.."

Aku kira perkataannya tadi nggak becanda. Ternyata sama aja

"Aku ke kelas dulu yaa, kalo mau pulang, gih pulang nggak papa..!"

"Aku nunggu kamu aja."

Wajar saja dengan IP kelas Rega yang selalu mendekati cumloud bahkan ada yang cumloud termasuk Rega membuat kelasnya selalu diprioritaskan. Mata kuliah mereka selalu melebihi SKS di setiap semesternya.

Minggu besok mulai Ujian Semester. Dimana Ujian itu menjadi Ujian Semester pertamaku di Perguruan Tinggi ini. Dag dig dug aku menyambutnya. Aku takut. Kata Rega ketakutanku itu sampai terlihat jelas di mataku. Terang saja dua tahun aku tak pernah menghadapi Ujian Semester lagi setelah lulus SMK. Dan kali ini harus dan IPku juga harus Cumloud.

Aku terus belajar dan belajar. Walau berada di fakultas yang berbeda, Rega tetap membantuku dalam belajar. Sedikit banyak dia menguasai hitung-menghitung dalam ekonomi.

***

Anak-anak berdesak-desakkan di depan papan pengumuman.

04. Syifatul Assyifa.......................................................................... 3.7

Sontak aku hanya melongo. Setelah tanganku mengikuti baris angka dan nama-nama yang berjajar akhirnya aku menemukan nama yang aku cari. Ya, namaku yang sebenarnya, Syifatul Assyifa. Kutemukan Ip ku tertera disana, 3.7. Aku menjerit kegirangan. Bergegas aku menemui Rega. Tampak terlihat pula Rega berjalan ke arahku. Aku melambaikan tangan,

"Regaaa.... 3.7..." teriakku sambil menunjuk diriku sendiri.
"Kamu berapa?? Cumloud lagi?" lanjutku.

Rega hanya mengangguk dan tersenyum.

"Wah.. Emang kamu bener-bener ya...."

Bener-bener hebat dan bener-bener membuatku semakin sayang sama kamu, Ga.


kulanjutkan kalimatku dalam hati.


***

Usai Ujian Semester Ganjil, Ujian Semester Genap pun menyusul. Itu pertanda detik-detik terakhir Rega berada di kampus maupun di Samarinda ini. Seusai wisuda, Rega harus kembali ke Jakarta. Dia harus kembali kepada orang tuanya. Perusahaan ayahnya sudah menunggu dan melambai-lambai di sana.

Betapa sedihnya aku mendengar itu. Kuliahku agak berantakan meski aku masih terus bersama Rega. Cahaya hidupku agak meredup meski masih terus jalani hari dan aktifitas bersamanya. Kerjaan nggak fokus. Sampai-sampai setiap aku di mintai tolong untuk membantu menyelesaikan tugas Mbak Meilva seperti biasanya, tugas-tugas itu jadi berantakan. Membuat Mbak Meilva harus mengulanginya lagi dan lagi. mbak Meilva mengerti mengapa aku seperti itu. Aku menceritakan semua kepada Mbak Meilva. Mbak Meilva memaklumi dan tidak marah.


Makasih Mbak Meilva. Maaf Meyil jadi terlantarkan.. Ucapku dalam batin.


Rega tak pernah tahu betapa sedihnya aku. Aku hanya berpura-pura bahagia saat ini.

Aku tetap belajar untuk Ujian Semester Genap ini. Ini kebiasaanku bersama Rega. Meski jarak umur kami hanya satu tahun, Rega tetap lebih dewasa dari aku. Dia tak lelah membimbing aku. Mengajari aku dan sabar menemaniku.

Ya Allah jika kami berjodoh maka temukanlah kami dalam ikatan suci-Mu, Ya Allah..
Itu doa yang hampir di setiap sujudku aku sebut. Bahkan di setiap kedipan mataku.

Aku hanya mampu berdoa, hanya Allah yang menentukan.
Aku hanya pasrah untuk saat ini.

IPku Semester Genap telah keluar. 3.75. Hanya beda 0.05 dengan semester sebelumnya. Nggak Naik dan Alhamdulillah nggak turun. Sedangkan Rega tengah berhasil menyelesaikan skripsinya di pertengahan semester ini dan LULUS dengan SEMPURNA.

Minggu depan Rega wisuda. Satu minggu setelah wisuda, ia harus sudah berada di tempat kelahirannya, Jakarta. Aku semakin sedih menyambut hari itu.

Maaf, Ga.. Aku sedih atas kelulusanmu.. Tepatnya aku sedih berpisah denganmu..


Rasa sedihku ini aku simpan rapat-rapat. Jangan ada satu pun orang yang tahu. Kecuali Mbak Melva yang memang mengikuti betul kehidupanku.


Prosesi Wisuda usai dengan sukses satu minggu yang lalu. Aku memang sengaja tidak datang sekedar untuk melihat Rega mengenakan topi toganya di atas panggung. Aku takut air mataku meleleh di hari bahagia Rega. Aku hanya mengintai Rega dari kejauhan. Rega tampak bahagia. Ada sedikit kekecewaan di matanya saat ia hendak masuk ke Aula prosesi wisuda, seperti ada seseorang yang tak datang, mungkin ia sedang menunggu seserorang. Orang tuanya kah? tapi sempat kulihat dia tengah bersama dua orang tuanya. Aku tak tahu siapa yang ia tunggu. Mungkin aku? Mungkinkah orang lain?

Hari ini tepat hari dimana Rega harus pergi. Aku menemaninya. Membantunya mengepak barang. Mengantarkannya hanya sampai Bandara. Tak ada yang spesial di hari perpisahan kami ini. Tak ada.

Aku menangis sejadi-jadinya usai mengantarkan kepulangan Rega ke Jakarta. Di Bandara aku berpura-pura tegar. Seperti tak ada apa-apa. Air mata Rega yang berlinangan seolah tak mampu memecahkan ketegaranku saat itu. Satu kata yang aku ingat saat perpisahan kami,


"Selesaikan kuliahmu, jangan bermain-main dan jangan cari kebahagiaan yang lain."



Aku sedikit merasa tidak adil. Mungkin saja di Kota Metropolitan sana Rega akan bertemu dengan banyak teman, akan bahagia dengan dunia barunya, dunia yang jauh berbeda dengan dunianya di sini bersamaku. Lalu kenapa aku yang di sini tak boleh bermain-main? Apa maksudnya? Tidak boleh mencari kebahgiaan lain? Sementara satu temanku ini tega meninggalkan aku sendiri.


Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirku saat itu hingga akhirnya kami berpisah. Sekedar mengatakan "baik-baik yaa di sana"  atau "Sering balik ke sini yaa" atau "Jangan lupain aku ya" atau mengatakan yang lainnya pun tidak. Aku tidak menagis tapi juga tidak bahagia. Senyum masam yang aku perlihatkan kali yang terakhirnya saat itu.

Aku bakal kangen. Bakal kangen sekali sama kamu, Rega.

***

Kini aku benar-benar sudah terbiasa menjalani hidup tanpa Rega. Dia seperti masa lalu bagiku. Keadaanku masih sama seperti saat pertama kali aku belum bertemu denggannya. Hanya saja tetap dia masih berngiang di kalbu kecilku. Aku masih belum bisa membuka lembar baru untuk kehidupanku. Aku masih seperti ini, menunggu takdir menjawab akhir kisahku.

"Mbem.. besok kita order yang ini ya.. sekalian nanti order berapa gitu sama buat kirimin ke customer kita yang ada di balikpapan.." Ucap Iner yang berada di sebelah rak gaun di pojok setelah pintu masuk outletku.

"Oke" Jawabku mengiyakan.

Iner tersenyum ke arahku. Dia tahu apa yang terjadi selama ini tentang aku. Semenjak ia menikah, memang waktunya hanya ia habiskan untuk mengurusi rumah tangganya, terutama suami dan anak laki-lakinya. Tapi pasca suaminya meninggal lantaran kecelakaan pesawat terbang ketika Kak Anton hendak mengurusi pekerjaannya di Korea, Iner tak lagi menetap di tempat tinggalnya terdahulu. Sempat Iner bingung mau tinggal dimana dan makan apa sedangkan penghasilan pun ia tak punya. Ia sengaja tak membawa sedikitpun harta peninggalan Kak Anton. Karena itu hanya membuatnya semakin teringat oleh sosok orang yang amat dicintainya itu. Mengetahui hal itu, aku berencana menghubungi Iner dan membawanya tinggal di ruko outletku. Awalnya Iner menolak, tapi memikirkan nasib anaknya akhirnya Iner mau aku ajak ke sini dan membantuku semampunya.

Kuliahku selesai satu tahun yang lalu. Tapi Outlet baju ini sudah aku dirikan semenjak aku memasuki semester 6-ku di UNTAG dulu. Tepatnya satu setengah tahun setelah kepergian Rega ke Jakarta. Aku memang sengaja mencari kesibukan. Aku tak ingin hari-hariku semakin kalang kabut lantaran kepergian Rega. Syukurnya sahabatku ada untukku, Iner.

Kriiiing.. Kriiiing...

"Say, tolong angkatin dulu tu telpon, tanggung ni.. hehe"

Iner mengiyakan.
"Ciint... cari kamu niih.." ucap Iner sambil meletakkan telpon di dekat dudukannya.

"Siapa? Client? Ato tagihan niiih...". jawabku cuek.

"Re... Reno ato siapa tadi lupa.. hehe.." jawab Iner.

"Iyaa, Haloo, As Syifa boutique di sini, dengan siapa ya?" ucapku dalam telepon.

"Haloo, Assalamu'alaikum.." terdengar suara yang tidak asing lagi bagiku.

"Wa.. Wa'alaikumsalam.. dengan siapa ya maaf?" jawabku yang tiba-tiba menjadi gugup.

"Emm.. Ibu kok gugup ya..??" tanyanya.
"Ini dengan Bapak Rega, apa benar ini dengan Ibu Embem, hehe"

"Haaah?? Rega?? Agus Rega Abisyah??" tanyaku kaget.

"Iya.. Benar ibuu.. Emm.. Sepertinya anda sudah mengenal nama saya.. begitulah ibuu.. saya memang terkenal.. hahaha" terdengan tawa lirih di sebrang telepon sembari becanda.

"kamu jahat.." teriak lirih Embem hampir tak terdengar di sebrang sana.

"ahh... tampaknya kamu tak suka aku telepon Embem.. maaf.."
"ya sudah.. kalo kamu tak suka.. akan aku temui kamu dalam sebaik-baiknya keadaan Embem.. Bersabarlah dan persiapkan dirimu.. Assalamu'alaikum.."

Tut tut tut ..
Telepon telah terputus sebelum Embem sempat menjawabnya..

"Waa.. Wa'alikumsalam" Ucapnya lirih seraya memeluk gagang telepon yang mengantarkan suara yang lama telah ia rindui. Rega, ya, pemuda yang berhasil menebarkan benih cinta dalam ladang hati Embem.

***
Sejak saat itu ia sering melamun. Embem, ah bukan kali ini panggil saja Syifa, sering membayangkan wajah kekasih hatinya itu. Berharap cinta yang telah tumbuh dalam hatinya itu akan berkembang dan berbunga di saat musimnya tiba. Tapi kapan musim itu akan tiba menghampirinya? Ataukah harus ia sendiri yang menemui si musim itu agar bunga-bunga dalam hatinya bisa bermekaran indah? Ah, tidak mungkin ia rasa. Ia memang menciantai Rega, tapi apakah Rega mencintai Syifa. Ia tak tahu. Tapi Rega dan Allah tahu. Rega tau bahwa Rega pun tengah memendam cinta selama ini. Rega tahu, tapi ia tak ingin menyatakannya, karna dulu ia ragu dan menyerahkan segala urusan hatinya kepada Allah semata, memasrahkan akan berlabuh di hati mana cinta yang ia punya. Yang Rega tahu saat itu hanya kecintaannya kepada Allah.

Tapi kini, Rega memiliki kesimpulan lain. Bahwa Rega memang telah memautkan cintanya kepada Syifa. Ya, ia mencintai gadis yang bernama asli Syifa As Syifa hanya semata karena Allah. Karena petunjuk Allah lah ia bisa memutuskan bahwa cintanya itu adalah Embem, Syifa As Syifa, gadis yang cukup lama bersanding dengannya sebagai seorang sahabatdan teman dekat. Dan setelah sekian lama ia meninggalkan Samarinda beserta isinya, tak terkecuali Syifa, ia pun memutuskan bahwa kedatangannya ke Samarinda untuk pertama kalinya ini, setelah usai wisudanya, ia bertekad untuk menemui kembali gadis yang ia cintai. Ingin ia temui Syifa bukan hanya dalam pertemuan biasa. Melainkan pertemuan yang benar-benar pertemuan. Pertemuan yang bisa mengantarkannya dan mengantarkan Syifa As Syifa dalam sebuah ucapan sakral yaitu janji suci tali pernikahan. Ya ia ingin melamarkan cintanya itu kepada gadisnya agar hatinya bisa ia sandingkan tepat di samping hati Syifa. Rega ingin meminang Embem, Syifa As Syifa, karena Allah semata. Hingga terjalin dan berdiri kokoh keluarga yang sakinah mawadah warohmah.

Sore itu, setelah rega menutup telepon dan mengucap salam pada Syifa, ia bergegas ke hotel dimana ia dan keluarganya menginap semenjak kemarin mereka sampai di Samarinda. Tak jauh dari kawasan rumah Embem. Ia bersiap-siap, mengguyur tubuhnya dan berbusana rapi. Ketampanannya tampak semakin indah bagi yang melihatnya. Diteruskan bersiap-siap hendak segera melamar Syifa setelah ia menunaikkan wajib Asharnya. Ayah dan Ibu Rega pun demikian. Lalu segera mereka melaju ke rumah Syifa, bersama mereka pula Pak de Rega yang sekaligus menjadi sopir mereka kala itu. Di sanding istinya dan ke dua anaknya, ponakan Rega, Lita dan Joni.

Sesampainya di Rumah Syifa, Syifa tengah berada di kamarnya. Tengah mengusaikan sholat asharnya. Memejamkan mata sambil menengadahkan tangganya. Ia berdoa kepada Rabbnya.

Ya Allah Ya Rabb. Benarkah ini jawab-Mu ? Ia, pemuda yang aku cintai semata karena-Mu tengah datang kembali, entah ia kembali untukku atau hanya ingin bersua dengan kenangan-kenangannya kala ia tengah bersemayam di sini, di Samarinda ini. Aduhai Rabbku, jagalah selalu cinta hamba-Mu ini, cinta yang patutnya hanya untuk-Mu semata. Dan adapun cintaku kepada sesamaku, itu semata-mata kulakukan atas demi Engkau, Duhai Allah..

Dalam doanya, bertetesan air matanya. Tak henti-henti ia meminta petunjuk kepada Allah.

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu di luar sana. Ibu Syifa membukakan pintu. Ternyata Rega beserta Ayah dan ibunya serta merta empat orang lainnya, dua muda mudi dan dua tampak suami isteri, ibu Syifa tak tahu siapa mereka, yang jelas ia tengah tau bahwa hari ini Rega tengah mempersiapkan diri hendak meminang Syifa. Dan itu pun tanpa ketidaksepengetahuan ibu dan ayah Syifa, Rega telah terlebih dahulu meberitahu mereka, karena setibanya Rega di Samarinda ini mungkin hanya Shifa saja yang tengah sibuk hingga ia tak mengetahui akan hal itu. Di belakang tengah tersaji banyak jajanan untuk di sanding di atas meja. Semuanya telah rapi dan telah siap.

"Ooo... nak rega.. mari-mari.." sambil menyalami satu persatu ibu mempersilahkan Rega beserta keluarganya memasuki rumah dan tak lupa mempersilahkan duduk.

Lalu ibu pergi ke dalam memanggil suaminya. Dilanjutkan menghampiri Syifa di kamarnya. Sedang apakah dia? ah nampaknya tak ada yang tahu.
Tanpa mengetuk pintu ibu langsung masuk kamar putrinya itu.

"Nduk.." Ibu mendapati putrinya tengah menangis.
"Kenapa to, Nduk ? kok nangis? " lanjut ibunya menanyai Syifa beserta logat jawanya. Lalu melanjutkan ucapannya lagi,
"itu lho ada nak Rega"
Sontak itu membuat Syifa kaget.

"Iyaa Nduk nak Rega, beserta keluarganya datang, hendak meminang engkau duhai putriku."

Syifa bahagia, bahagia sekali. Jiwanya melayang ke langit ke tujuh. Benar saja bunga-bunga dalam hatinya bermekaran. Ah betapa mendadaknya rencana Rega itu. Tanpa memberi tahuku, ia melamarku. Ah itu memang kebiasaannya.

Bersamaan dengan itu, tengah terjadi perbincangan serius di luar sana. Perbincangan antara Ayah Syifa, Rega dan orang tuanya sera pakdenya.

Tanpa Syifa keluarpun ayah Syifa tengah tau jawaban apa yang hendak ia berikan atas lamaran Rega itu. Kedekatannya dengan putri tunggalnyalah yang meyakinkan ia untuk menerima lamaran Rega.
Dibalik pintu, airmata Syifa mengalir deras, tapi kali ini air mata yang keluar bukan lagi air mata kesedihan dan kebingungan, melainkan tengah berganti air mata kebahagiaan.
Dan tak lama lagi, ia akan bersanding dengan lelaki yang ia cintai semata karena-Nya. Bersanding dalam ikatan yang Halal. Cinta suci itu akan kembali kepada hakikatnya. Semoga Cinta kita, aku dan para pembaca sekalian takkan pernah terjuntur pada cinta yang disanding hawa dan nafsu di sampingnya. Semoga cinta kita kepada sesama adalah cinta semata karena Allah. Semoga cinta kepada sesama itu tak melarutkan dan tak menyusutkan cinta kita kepada Allah. Wallahua'lam. Akhirnya Syifa menemukan cintanya yang tulus karena Allah. Begitu pula Rega, yang benar-benar menjaga cintanya tanpa ada seorang pun yang mengetahui dan tak ada yang terluka terluka karena cintanya.


Created By : Nur Istichomah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar