Kamis, 18 Oktober 2012

Secuil Duka untuk Segepok Sahaja

Sore itu, sore yang cerah, ada semburat jingga terang di langit di ufuk barat tepatnya. Burung-burung beterbangan hendak berpulang, mungkin hendak berkumpul dengan keluarganya atau mungkin hanya sekedar hendak menyalami sarangnya yang seharian ia tinggalkan. Ada yang masih hilir mudik tanpa arah tujuan. Ada yang masih berdua-duaan bersama betinanya. Dan ada pula yang mampir hinggap di jendela kamarku. Sejenak kuperhatikan ada kesepian di raut wajahnya. Ada kebingungan di setiap kedip matanya. Mungkin dalam batinnya ia berkata, "Aah.. dimana ini ? neraka mana yang ada di dunia ini ? oh begitu sumpek aku melihatnya..", mungkin pula ia membatinkan yang lain, "Siapa orang ini ? sedari tadi hanya melamun ku perhatikan, apa dia tidak tahu ada seekor burung cantik hinggap di jendelanya ? tidak takutkah aku akan meninggalkan jejak-jejak kotor di kakiku? atau tidak takutkah ia aku akan dengan seenaknya mengeluarkan kotoranku yang bau di disini ? Di tempat ini ?" dan batinan yang lain lagi, "Biasanya manusia akan seenak hati menggusah aku dan teman-temanku tanpa hati. Tampaknya ada kebingungan dan kesepian, seperti aku, pada lelaki ini"

Oh tidak sama sekali, benar-benar aku tidak terganggu akan burung itu. Burung itu hanya menjadi pemandangan yang berhasil aku acuhkan. Bersama layar laptopku aku masih saja menderap-derapkan jemariku diatas tombol-tombol keyboard yang sudah kian menjadi lusuh. Tugas-tugas semester akhirku memang tanpa ada henti. Satu selesai satu yang lainnya menyusul. Bahkan baru hendak mengerjakan yang satu sudah ada dua atau tiga tugas yang lain lagi.


Aku masih terbayang pada layar di belakangku sebelum hari ini, satu setengah tahun yang lalu tepatnya. Dulu aku sosok orang yang sombong lagi angkuh. Kedua orang tuaku yang jutawan menjadikan aku kian buta dengan harta mereka. Uang-uang yang mereka kirimkan setiap dua minggu sekali ke alamat kosku membuat duniaku ini suram. Jalan-jalan kebaikan di depanku nampak gelap. Mungkin aku hanya memiliki teman-teman syaitan la'natullah. Ketika dirundung-rundung banyak masalah, yang aku buat sendiri, dan dikerubuti setumpuk tugas yang membuat jenuh, aku biasa lari kepada syaitan-syaitan itu. Bar adalah tempat berpijakku setiap malam. Aku menikmati sekali dunia malamku. Akan aku tebarkan setiap rupiahku di sana. Menyanding minuman keras dan menggandeng wanita-wanita iblis.



Kebiasaan-kebiasaan buruk itu tumbuh semenjak aku memijakkan kaki di bangku SMA. Tentu tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku. Jarak adalah penyebabnya. Itu memang mauku, jauh dari mereka, jauh dari kedua orang tua yang perhatiannya adalah suatu kekangan bagi jiwaku yang pemberontak. Dengan jauh dari mereka akan dengan mudah bagiku untuk mendapatkan secuil uang dari mereka. Akan dengan mudah bagiku untuk pulang sampai larut malam bahkan sampai siang menjelang, tanpa ada pertanyaan ini dan itu yang membuat pening di kepalaku.

Aku, adalah putra kedua orang tuaku dan anak semata wayang mereka. Apa yang aku pinta selalu mereka iyakan. Semua untuk aku, dengan harapan jika tua kelak mereka akan bergantung padaku, putra semata wayangnya yang buruk lagi angkuh, sombong pula.

Ah, makhluk macam apakah aku ini. Hanya memanfaatkan harta orang tua saja. Menjadi buruk karenanya. Hingga akhirnya Allah menjemput kedua orang tuaku untuk bersanding di samping-Nya kala dua tahun yang lalu dalam tabrak lari yang membuat hatiku kalut. Semenjak itu aku merasa Allah telah melaknat hidupku. Dia bayar kedzalimanku dengan kepergian kedua orang tua yang sejatinya sangat aku cintai, melebihi harta-harta mereka. Dia, Allah, telah mengingatkanku berkali-kali. Dari perampokan saat di kos, mobil yang ayah bawakan untukku lenyap, uang-uang yang biasa kugunakan untuk menyenangkan diri dan berfoya-foya, habis sudah kala itu. Aku tidak takut dan tidak menyesal, "Ah tak apa mobil dan uang-uangku lenyap, aku masih bisa menelpon ayah dan meminta dibelikan lagi." kataku dalam hati. Aku minta dibelikan motor kala itu, lumayan lah bisa buat modal balapan pikirku. Hingga kini aku harus kehilangan orang yang membuatku bisa hidup sempurna, kesempurnaan itulah yang membuatku mendzalimi Sang Maha Pencipta.

Sejak saat itu aku tersadar. Aku mulai menggelar sajadahku yang lama tak pernah ku sentuh. Aku bersujud di sana. Aku menitikkan air mata untuk kedua kalinya di atas sajadah itu. Pertama, aku menitikkan air mata ketika nyata-nyata aku menyaksikan ayah dan ibu meninggalkan aku untuk selama-lamanya, semoga mereka diterima di sisi-Nya. Dan ini adalah kedua kalinya. Aku mulai mengaji. Terbata-bata bacaan tartilku, setelah sekian lama tak pernah ku pegang lagi mushaf itu. Hatiku mulai berselimut kedamaian dan ketenangan. Aku mulai bangkit dan berubah layaknya bunglon. Musimku kini bukan lagi musim dugem, dunia gemerlap, di bar, melainkan dugem, duduk gemetar, di hadapan-NYa.

Seiring bergantinya waktu, keuanganku semakin memburuk, keadaanku tak semakin membaik. Uang yang kedua orang tuaku tinggalkan untukku tak cukup lagi untuk membiayai sisa hidup dan kuliahku. Perusahaan yang ayah pertahankan selama ini goyah dan akhirnya bangkrut semenjak sepeninggalnya. Tanah-tanah warisan yang ia punya sudah habis ia jual untuk biaya hidupku selama ini dan biaya kuliahku yang tak cukup satu atau dua juta. Ujian itu datang bertubi-tubi di setiap hari berganti dengan hari yang lain. Hingga kini aku harus mencari pekerjaan untuk menghasilkan uang. Sungguh berat rasanya. Dulu aku hanya tinggal menengadahkan kedua tanganku di hadapan orang tuaku untuk bisa mendapatkan uang, tapi kini untuk mendapatkan pekerjaan pun tak cukup aku berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain.

Pekerjaan tak kunjung kudapatkan saat itu.
Aku hanya bisa mengeluh. Betapa hinanya aku yang memaki Allah dalam doa yang aku panjaatkan saat itu,
Aku lengah .. Aku lemah .. Aku putus asa .. Aku tak sanggup lagi .. Aku ingin mati saja ..
Ya Allah .. Aku telah insyaf, aku tobat atas-Mu, Aku memohonkan maaf atas kedzalimanku .. Tapi mengapa Ya Allah, tak cukupkah engkau tampar aku dengan sepeninggal kedua orang tuaku, dengan bangkrutnya perusahaan yang orang tuaku tinggalkan ?? Aku harus bekerja Ya Allah, betapa jahatnya engkau masih memberi cobaan ini dan itu dalam hidupku. Sekian lama aku msaih belum bisa mendapatkan uang untukku meneruskan hidup. Aku rela hanya memakan satu bungkus nasi di setiap maghribku saja. Aku rela kini hidup dalam kenelangsaan. Tapi sampai kapan Ya Allah..?

Di atas adalah doa yang benar-benar aku ingat saat aku sudah berada dalam titik lengahku.
Hingga Subhanallah .. Betapa Maha Agung Allah itu, Maha Pemberi Rizqi lagi Maha Pemurah.
Dengan aku yang pernah mendzalimi-Nya selama beberapa tahun ini, ia masih memberiku jalan. Dosen pengampu mata kuliah keagamaanku menawariku sebuah pekerjaan, yaitu menjajakan bermacam-macam minuman, jus dan jajanan ringan lainnya di warung kecil yang sekaligus rumah sang dosen, letaknya tepat di seberang depan kampus. Pak Muchtar namanya. Nampaknya Pak Muchtar itu mampu membaca keadaan yang tengah aku alami. Tanpa babibu aku langsung mengiyakan tawaran Pak Muchtar.

Alhamdulillah .. Terimakasih Ya Allah .. Dan kali ini aku benar-benar berterimakasih pada Rabb yang tengah mengadakan aku untuk hidup di dunia ini. Ya, baru kali ini aku berterimakasih pada-Nya dengan sepenuh dan setulus hati. Menitik sebuah bulir bening di ujung kelopak mataku. Tak henti-henti hatiku berucap syukur pada-Nya.

"Lo ?? Kok nangis le?"

"Iya, pak, saya bahagia dan terharu. Aku yang selama ini telah dzalim kepada Allah. Selalu berbuat dosa dan menghambur-hamburkan uang yang seharusnya bisa saya bagi dengan sesama yang membutuhkan. Tapi Allah masih saja tak segan memberiku jalan untuk rizqiku. Mengingat Saya yang dulu seperti itu, saya semakin merasa hina pak. Saya begitu rendah di hadapan-Nya. Astaghfirullahhal'adzim.. Makhluk macam apa saya selama ini, Pak? Bapak tahu sendiri seperti apa saya itu. Dalam kuliah dalam kehidupan di luar, dalam kepribadianku, nampaknya bapak mengamati betul keadaan saya. Itukah mengapa bapak memilih saya untuk membantu menjajakan dagangan bapak?"

"Iya, Allah memperlihatkan sesamaku yang harus aku bantu. Allah memang Maha Segalanya, Nak. Dia tak pernah luput. Dia Maha Melihat lagi Mendengar. Dia Maha Pemberi Rizqi lagi Pemurah. Dia tak pernah tidur. Dia Maha Melihat, Dia tak pernah menguji umatnya melebihi kemampuan umat itu, hingga kini engkau telah disudahkan dari ujian pahit, Nak, tapi kelak jangan sampai engkau terlena akan ujian yang manis-Nya. Dia Maha Mendengar, Dia mendengar segala doa dan harapan yang engkau ucapkan, Nak, hingga kini doa dan harapanmu tengah Allah kabulkan sedikit demi sedikit. Dia Maha Pemberi Rizqi, lewat perantara tubuhku Allah memberi pekerjaan ini untukmu, agar kamu bisa menghasilkan uang untuk biaya hidupmu setelah ini. Dan Dia Maha Pemurah hingga engkau masih Allah beri kehidupan walau dengan keadaan lapar dan haus selama ini. Dia tengah mengujimu, seberapa taatnya engkau pada-Nya dalam keadaan senista apapun."

"Terimakasih Ya Allah.. Terimakasih Pak Muchtar.. Terimakasih.. Saya tak mampu berucap apapun pak.."

"Iya, saya tahu. Semoga engkau tak lagi memalingkan jhatimu dari Rabb kita, Nak. Semoga ini titik awal pencerahan dalam hidupmu."

"Iya, pak terimakasih"

Ah itulah kejadian yang membuatku semakin sadar betapa Dahsyatnya Kemahaan-Nya itu. Saat itu usai shalat jumat di kampus. Seperti biasa beliau menjadi khotib dan beliau memerhatikanku saat ia tengah menuturkan wasiat-wasiat dalam khotbahnya.
Semenjak saat itu aku berjanji akan menjalani wajibku yang lima waktu. Dan menjalani pula sunah-sunah-Nya.

Allahuakbar-Allaahuakbar ..

Ashar berkumandang saatnya aku menjalani wajib asharku. Sejenak aku perhatikan burung yang masih saja berdiam di jendela sana. Ku letakkan laptop yang sedari tadi berada di pangkuanku dan kuletakkan kacamata yang kukenakan. Aku hampiri burung yang sedari tadi mengamatiku.

BBBrrrrrrrrrrrr... Nampaknya ia takut padaku.. 

Lalu burung itu terbang. Terbang sembari meninggalkan satu pesan "Berbahagialah, jemput bahagia itu karena Allah semata.. jadikan secuil dukamu menjadi segepok sahaja"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar